Raih Skor GSR 92 Persen, INA Genjot Investasi ke Indonesia

Raih Skor GSR 92 Persen, INA Genjot Investasi ke Indonesia
INA: Skor GSR Jadi Modal Utama Tarik Investasi Global [FOTO: NET].

JAKARTA - Lembaga pengelola investasi Indonesia Investment Authority (INA) memandang bahwa perolehan skor sebesar 92 persen dalam ajang Governance, Sustainability and Resilience (GSR) Scoreboard 2026 berperan sebagai fondasi krusial guna mendongkrak kepercayaan penanam modal serta mengail investasi masuk ke Indonesia.

Ketua Dewan Direktur INA, Oki Ramadhana, menyatakan bahwa pencapaian gemilang tersebut bakal dioptimalkan untuk mendongkrak citra positif INA di kancah global agar semakin banyak mitra strategis yang berminat menanamkan modalnya di Indonesia.

"Kami perlu menyampaikan kepada dunia bahwa skor GSR kami sangat baik sehingga dapat menjadi salah satu pertimbangan bagi investor untuk memilih INA sebagai mitra investasi di Indonesia," kata Oki dalam temu media di Jakarta, Rabu.

Menurut Oki, apresiasi dari Global SWF memegang peranan vital sebab dirilis oleh institusi independen yang mengukur mutu tata kelola, aspek keberlanjutan, serta ketahanan kelembagaan dari berbagai sovereign wealth fund di dunia. 

Ia menambahkan bahwa para investor global dewasa ini tidak hanya memperhitungkan potensi keuntungan suatu negara, tetapi juga mencari mitra yang kredibel dan memiliki tata kelola mumpuni untuk mendampingi penanaman modal di Indonesia.

"Pada akhirnya, kalau kami berhasil membawa lebih banyak mitra investasi ke Indonesia, ini bukan hanya cerita tentang INA. Ini adalah cerita Indonesia karena Indonesia yang akan memperoleh manfaat dari investasi yang masuk," ujarnya.

Berdasarkan GSR Scoreboard 2026 yang dirilis oleh Global SWF, INA sukses mengantongi skor 92 persen dan menduduki peringkat kedua di antara jajaran lembaga pengelola investasi negara se-Asia, berada tepat di bawah Temasek Holdings asal Singapura. Secara rinci, skor komprehensif 92 persen tersebut terbagi atas nilai governance sebesar 9 dari 10 poin, sustainability sebesar 9 dari 10 poin, serta resilience sempurna 5 dari 5 poin.

GSR Scoreboard sendiri merupakan evaluasi tahunan yang mengukur praktik tata kelola, keberlanjutan, serta ketahanan operasional dari sekitar 200 sovereign wealth fund serta dana pensiun publik terbesar di seluruh dunia berdasarkan data terbuka yang dapat diakses publik.

 Global SWF mencatat bahwa secara kolektif, para pengelola investasi negara di berbagai belahan dunia mengurus aset bernilai sekitar 62,5 triliun dolar AS.

Di lingkup regional Asia, tercatat sebanyak 49 lembaga pengelola investasi negara turut serta dalam penilaian tersebut dengan rata-rata perolehan skor GSR berada di angka 51 persen, mengalami lonjakan dari posisi 36 persen pada tahun 2020 silam. 

Oki menegaskan bahwa pihak INA akan konsisten memperbaiki kualitas tata kelola serta mengoptimalkan fungsinya sebagai katalisator investasi internasional guna merangsang aliran modal masuk ke berbagai sektor strategis tanah air.

Dalam kesempatan serupa, Chief Risk Officer INA, Adhiputra Tanoyo, menuturkan bahwa penilaian GSR menghadirkan tinjauan yang bersifat independen terkait standar tata kelola, aspek keberlanjutan, serta ketahanan kelembagaan INA sehingga berfungsi sebagai acuan esensial bagi para pemangku kepentingan. Menurutnya, torehan skor tersebut merupakan buah dari kerja keras serta komitmen berkesinambungan seluruh elemen organisasi dalam meningkatkan tata kelola, mulai dari ranah fungsi investasi, pengelolaan risiko, aspek kepatuhan, hingga bidang hukum.

"INA sebagai sovereign wealth fund bukan hanya dilihat dari cuannya saja, bukan dilihat dari hanya imbal hasilnya saja, tetapi juga dari berbagai aspek, termasuk governance, sustainability, dan resilience," ujar Adhiputra.

Semenjak resmi didirikan pada tahun 2021, perolehan skor GSR INA terpantau mengalami peningkatan yang konsisten, yakni dari angka 24 persen pada 2021, naik menjadi 52 persen di 2022, berlanjut ke 56 persen pada 2023, menyentuh 60 persen di 2024, mencapai 68 persen pada 2025, hingga puncaknya menembus 92 persen pada tahun 2026 ini.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index