Industri nonmigas tumbuh 5,32% di tengah perlambatan

Industri nonmigas tumbuh 5,32% di tengah perlambatan
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Amalia Adininggar Widyasanti [FOTO: NET].

JAKARTA — Kinerja sektor industri pengolahan atau manufaktur secara umum mencatat tren perlambatan pada kuartal II/2026. Meski demikian, Badan Pusat Statistik (BPS) menegaskan penguatan industrialisasi tetap berlangsung di Indonesia.

Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti meminta publik melihat data industri secara menyeluruh sebelum menyimpulkan adanya kelesuan atau deindustrialisasi. Sektor manufaktur disebutnya masih menjadi kontributor utama pertumbuhan ekonomi nasional.

Winny, sapaan Amalia, mengakui terjadi perlambatan cukup tajam dari 5,6% YoY pada kuartal II/2025 menjadi 4,52% YoY pada kuartal II/2026. Namun, subsektor utama yakni industri pengolahan nonmigas tetap tumbuh 5,32%, bahkan melampaui rata-rata pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,29%.

"Jadi ini ada momentum industrialisasi. Ke depan, industrialisasi ini harus didorong dan terus dijaga supaya bisa tumbuh lebih cepat," ujar Winny, Jakarta, Sabtu (8/8/2026).

Menurutnya, momentum industrialisasi menjadi kunci ketangguhan ekonomi di tengah ketidakpastian global. Ia mencontohkan Vietnam (8,4%) dan Malaysia (5,8%) yang ekonominya tetap tumbuh tinggi berkat investasi dan industrialisasi.

Winny menambahkan, hilirisasi terbukti sukses mengungkit nilai tambah hingga menciptakan pertumbuhan ekonomi dua digit di sejumlah provinsi. Maluku Utara mencatat pertumbuhan 15,35% pada kuartal II/2026 berkat hilirisasi nikel. "Hilirisasi nikel ini betul-betul menjadi motor pertumbuhan ekonomi Maluku Utara. Pada 2013-2014, Maluku Utara tidak pernah menyentuh double digit. Tapi begitu ada injeksi investasi, smelter berproduksi, dan didorong ekspor hasil produk hilirnya, ekonomi mereka tumbuh double digit sejak 2021," paparnya.

Pola serupa terjadi di Nusa Tenggara Barat (NTB) dengan pertumbuhan 7,41% YoY pada kuartal II/2026, didorong beroperasinya smelter tembaga. Provinsi sentra manufaktur seperti Jawa Timur (5,72%), Jawa Barat (5,73%), dan Jawa Tengah (5,71%) juga tumbuh solid.

Winny tidak menampik ada subsektor yang terkontraksi seperti industri kertas (0,4% YoY) akibat tren paperless, serta industri karet dan plastik yang tertekan harga bahan baku. Namun, subsektor lain masih tumbuh tinggi, termasuk industri makanan dan minuman (6,51% YoY) yang menjadi tulang punggung manufaktur dengan kontribusi 38% dari total struktur industri. "Jadi bayangkan, lebih dari separuh pertumbuhan industri manufaktur itu ditopang oleh industri makanan minuman," tegasnya.

Selain mamin, subsektor pendorong lainnya adalah industri barang logam (0,72%), kimia dan farmasi (0,5%), alat angkutan (0,43%), serta tekstil dan pakaian jadi (0,34%). Kelima subsektor ini menguasai lebih dari 80% total pertumbuhan industri pengolahan.

Winny menekankan pentingnya memperpanjang rantai nilai hilirisasi. "Semakin ekonomi suatu wilayah masuk kepada produk yang lebih hilir, semakin tinggi nilai tambah yang tercipta, dan semakin besar juga peluang penciptaan lapangan kerja," jelasnya.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index