JAKARTA - PT Pertamina Lubricants telah mengirimkan komoditas pelumas ke 16 negara yang tersebar di Asia, Afrika, hingga Australia. Korea Selatan menjadi negara tujuan pengiriman perdana sejak 2007, sementara Tanzania menjadi negara tujuan terkini sejak 2024.
Manager Production Unit Jakarta PT Pertamina Lubricants Dody Arief Aditya menuturkan, produk pelumas Pertamina saat ini tidak hanya dipasarkan untuk mencukupi kebutuhan lokal, namun telah merambah pasar mancanegara.
"Pertamina Lubricants selain produknya juga sudah dipakai domestik, pasar juga sudah kami ekspor di 16 negara," ujarnya di Kantor Pertamina Lubricants, Jakarta, Selasa (12/8/2026).
Secara mendetail, 16 negara sasaran ekspor itu mencakup Korea Selatan sejak 2007, Bangladesh dan Afrika Selatan sejak 2010, China, Myanmar, Thailand, serta Vietnam sejak 2014, lalu Malaysia, Nigeria, Timor Leste, serta Yaman sejak 2015.
Selanjutnya, Pertamina Lubricants mulai mengirimkan produknya ke Singapura pada 2016, Australia pada 2018, Jepang pada 2020, Filipina pada 2021, serta Tanzania pada 2024.
Menurut Dody, permintaan serta karakteristik yang berlainan di tiap negara mengharuskan perusahaan melakukan penyesuaian terhadap produk pelumas yang dikirim.
"Produk ekspor ini unik, paling enggak secara bahasa kan beda, sehingga label yang ada di produk itu pasti beda-beda. Yang untuk Jepang beda, untuk China beda, untuk kawasan lain juga beda," kata dia.
Guna mendukung produksi bagi pasar global, Pertamina Lubricants mempunyai fasilitas Mini Lubricant Oil Blending Plant (LOBP) yang dikhususkan untuk mencukupi kebutuhan produk ekspor.
Daya tampung fasilitas tersebut mencapai sekitar 3.000 kiloliter (KL), jauh lebih minim dibandingkan LOBP utama yang mempunyai kapasitas 270.000 KL. Dody memaparkan, perbedaan kapasitas tersebut dipicu oleh volume pasar ekspor Pertamina Lubricants yang saat ini masih lebih sedikit dibanding pasar domestik.
"Plant ini sebenarnya difokuskan untuk mensupport produk-produk yang kami ekspor," ujar dia.
Ia menerangkan, produksi dalam kuantitas sedikit di fasilitas utama dirasa kurang ekonomis, oleh sebab itu perusahaan menyediakan fasilitas khusus yang lebih relevan untuk memproduksi berbagai kebutuhan pasar ekspor.
"Volumenya kecil. Jadi memang pasar ekspor kami belum sebesar domestik, sehingga kalau kami produksi di plant utama kami itu kurang ekonomi. Akhirnya kami buat satu plant Mini LOBP yang memang fokus untuk produk ekspor," pungkasnya.