RI-Swiss Garap Produksi Kereta dan Lokomotif untuk Pasar Global

RI-Swiss Garap Produksi Kereta dan Lokomotif untuk Pasar Global
Penampakan KRL seri baru CL1 225 buatan PT Industri Kereta Api (Persero) atau INKA yang resmi beroperasi untuk Lintas Bogor, Selasa (16/12/2025) [FOTO: NET].

JAKARTA — Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy membidik kerja sama antara Indonesia dan Swiss guna mengembangkan manufaktur kereta serta lokomotif.

Rachmat menuturkan bahwa kolaborasi ini mampu menjadi momentum bagi Indonesia untuk menciptakan sarana transportasi yang tidak hanya sanggup mencukupi kebutuhan domestik, melainkan juga menembus pasar internasional. Kemitraan tersebut bakal memadukan kecanggihan teknologi serta tata kelola manajemen Swiss dengan ketersediaan bahan baku dari Indonesia.

“Satu hal yang ingin kami gabungkan bersama untuk menghasilkan kereta, kereta lokomotif. Jadi tolong bekerja sama dengan kami. Dengan teknologi Swis, dengan manajemen Swis, dan dengan bahan baku dari Indonesia, kami dapat memproduksi untuk memenuhi permintaan global, terutama untuk bertransformasi,” kata Rachmat di acara Indonesia International Transport Summit (IITS) 2026 di The Tribrata Hotel & Convention Center, Jakarta Selatan, Kamis (20/8/2026).

Ia menilai Swiss mempunyai rekam jejak panjang dalam membangun industri berbasis teknologi serta keahlian tinggi, mulai dari manufaktur jam tangan, otomotif, hingga penerbangan. Menurutnya, pengalaman tersebut dapat dijadikan sarana pembelajaran bagi Indonesia dalam membangun industri transportasi berdaya saing tinggi.

Transisi ke Energi Terbarukan

Di samping manufaktur kereta dan lokomotif, Rachmat mengungkapkan bahwa kemitraan Indonesia-Swiss turut difokuskan untuk mengakselerasi peralihan sektor transportasi dari ketergantungan bahan bakar fosil menuju energi terbarukan. Ia menyebutkan Indonesia menyimpan potensi sumber daya energi terbarukan yang melimpah sebagai tumpuan pengembangan transportasi ramah lingkungan, seperti energi angin, surya, laut, panas bumi, hingga biomassa.

“Terutama untuk melakukan transformasi. Transformasi dari transportasi biasa berbahan bakar fosil, beralih ke bahan bakar lain, yaitu biofuel. Bukan hanya bahan bakar biasa, tetapi bahan bakar terbarukan,” imbuhnya.

Ia menganggap ketersediaan bahan baku terbarukan yang amat melimpah di dalam negeri menjadi peluang emas bagi Indonesia untuk mendongkrak nilai tambah komoditas lokal lewat pengembangan industri hijau. 

Rachmat menegaskan bahwa pergeseran dari bahan bakar fosil menuju energi terbarukan tidak boleh dianggap sebagai hambatan. Sebaliknya, proses transisi tersebut justru menghadirkan peluang ekonomi yang prospektif bagi Indonesia.

“Transformasi dari bahan bakar fosil ke bahan bakar terbarukan adalah sesuatu yang pasti, bukan beban, tetapi merupakan peluang ekonomi besar pada dekade ini, khususnya bagi Indonesia,” tandasnya.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index