Potensi 209 Rute Penerbangan Baru di RI, Akankah Digarap Maskapai?

Potensi 209 Rute Penerbangan Baru di RI, Akankah Digarap Maskapai?
Pesawat Wings Air jenis ATR [FOTO: NET].

JAKARTA — Di tengah kondisi pasar penerbangan domestik yang masih lesu, produsen pesawat ATR memetakan 209 rute domestik baru dengan potensi pasar mencapai 16 juta penumpang tiap tahunnya, yang sebagian besar berada di luar Jawa. 

Temuan ini menghadirkan peluang anyar bagi maskapai sekaligus menguji sejauh mana pasar penerbangan nasional dapat berkembang di tengah tekanan daya beli.

Kendati demikian, potensi tersebut berbanding terbalik dengan kondisi pasar di lapangan. Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat total penumpang angkutan udara domestik periode Januari—Juni 2026 mencapai 27,99 juta orang, terkoreksi 2,41% dibanding periode serupa pada 2025 yang menyentuh angka sekitar 28,69 juta penumpang. 

Hal ini menunjukkan adanya penurunan sekitar 692.000 penumpang pada semester pertama tahun ini.

Berdasarkan temuan ATR, potensi permintaan penerbangan yang belum terjangkau sebagian besar berlokasi di luar Jawa. Dari total 209 rute yang diidentifikasi, sekitar 88% merupakan rute intrapulau, dengan total potensi volume sekitar 14 juta penumpang saban tahun. 

Di sisi lain, sekitar 90% rute potensial bertempat di luar Pulau Jawa, melingkupi Sumatra, Sulawesi, Kalimantan, Papua, hingga Maluku.

Peluang tersebut diperoleh lewat analisis ATR menggunakan platform MobilityMonitor yang memetakan pola mobilitas 35 juta warga Indonesia. Sampel ini tercatat melakukan sekitar 780 juta perjalanan antarkota per tahun memakai beragam moda transportasi, mulai dari kendaraan pribadi, bus, kapal feri, kereta api, sampai pesawat.

Pihak ATR mengungkapkan, kisaran 90% perjalanan tersebut menempuh jarak 100–800 kilometer, sebuah rentang ideal bagi penerbangan pesawat turboprop regional seperti ATR. 

Melalui pemetaan pola perjalanan populer ke jaringan bandara Indonesia serta ekstrapolasi data terhadap populasi nasional, ATR menentukan 209 rute yang berpotensi dikembangkan.

Peluang ekspansi tersebut juga didukung kesiapan sarana infrastruktur. ATR mencatat dari 180 bandara berlandasan pacu aspal di Indonesia, terdapat 70 bandara yang belum melayani penerbangan penumpang berjadwal. 

Sumatra serta Sulawesi dinilai sebagai pasar potensial terbesar untuk penerbangan regional akibat tingginya permintaan perjalanan pada titik antarkota yang belum terkoneksi rute udara langsung.

Satu di antara contoh yang dipaparkan ATR yakni rute Bengkulu–Pekanbaru (BKS–PKU). Perjalanan via jalur darat pada rute ini dapat memakan waktu hingga lebih dari 18 jam, sedangkan penerbangan langsung cuma memerlukan durasi sekitar 1 jam. ATR menaksir volume permintaan rute tersebut cukup kuat untuk menopang pengoperasian dua kali penerbangan sehari.

“Temuan kami menunjukkan adanya pasar yang sangat besar dan belum tergarap. Permintaannya sudah ada, begitu pula infrastruktur bandar udaranya. Yang dibutuhkan sekarang adalah pesawat yang tepat,” ujar Senior Vice President Commercial ATR Alexis Vidal dalam keterangan tertulis, dikutip pada Kamis (20/8/2026).

Vidal menuturkan, MobilityMonitor turut memetakan kesenjangan tingkat mobilitas di bermacam wilayah kepulauan Indonesia. Menurut pendapatnya, penerbangan ATR sanggup menjadi solusi guna memangkas jarak kesenjangan tersebut.

“Dengan menghubungkan berbagai komunitas di seluruh kepulauan Indonesia melalui layanan penerbangan regional, layanan ini dapat mendorong pertumbuhan ekonomi, memperluas akses terhadap layanan esensial, serta menciptakan lebih banyak peluang bagi masyarakat,” tambahnya.

Kelayakan Bisnis Jadi Tantangan Meski demikian, potensi ini tidak serta-merta bisa langsung diubah menjadi rute komersial. Sekretaris Jenderal Indonesia National Air Carriers Association (INACA) Bayu Sutanto berpandangan 209 rute temuan ATR memang memperlihatkan peluang perluasan konektivitas dan pertumbuhan penumpang, utamanya di luar Pulau Jawa.

Menurut pandangannya, proyeksi 16 juta penumpang per tahun mengindikasikan masih tingginya permintaan mobilitas antarkota yang belum terlayani secara optimal oleh penerbangan. Apalagi, lanjut dia, mayoritas rute potensial berlokasi di luar Jawa serta merupakan rute intrapulau dengan jarak ideal untuk operasional pesawat turboprop regional.

“Namun, realisasi potensi tersebut tetap bergantung pada keekonomian masing-masing rute. Maskapai perlu melihat secara langsung besaran permintaan, tingkat keterisian penumpang, biaya operasional, harga bahan bakar, tarif kebandarudaraan, serta kemampuan masyarakat membayar tiket,” kata Bayu kepada Bisnis.

Di samping itu, INACA menilai ketersediaan sarana bandara tidak serta-merta menjamin kelayakan rute dari sisi bisnis. Pasalnya, pihak maskapai memerlukan jaminan kestabilan permintaan agar pembukaan rute tak sekadar prospektif di awal, melainkan berkelanjutan dalam jangka panjang.

Mengenai 70 bandara yang belum memfasilitasi penerbangan berjadwal, diperlukan studi lebih mendalam terkait potensi tiap wilayah. Oleh sebab itu, menurutnya, pemerintah beserta para pemangku kepentingan wajib menjamin kesiapan fasilitas penerbangan, akses konektivitas moda penunjang menuju bandara, hingga aktivitas ekonomi masyarakat setempat.

“Untuk merealisasikan potensi tersebut, dibutuhkan dukungan ekosistem. Pemerintah dapat berperan melalui kebijakan tarif bandara, insentif pembukaan rute baru, peningkatan konektivitas antarmoda, serta dukungan terhadap pengembangan armada pesawat regional,” sambungnya.

Perlu Dikaji Lebih Lanjut Di sudut pandang lain, Pengamat Penerbangan Alvin Lie berpendapat riset ATR perlu ditelaah kembali, khususnya menyangkut metodologi serta presisi estimasi 16 juta penumpang tersebut. Menurut Alvin, besarnya angka tersebut mesti dicermati dalam konteks kondisi pasar penerbangan domestik Indonesia yang masih belum pulih sepenuhnya.

Alvin menguraikan estimasi 16 juta penumpang sangat signifikan sebab setara dengan 30% dari total penumpang penerbangan domestik nasional yang berada di angka 55 juta per tahun. Apabila seluruh potensi tersebut benar-benar terwujud, Alvin mengkalkulasi angka penumpang domestik dapat melambung hingga 71 juta orang saban tahunnya, melampaui capaian rekor historis penerbangan domestik tanah air.

“Itu akan melampaui jumlah penumpang domestik tertinggi yang kami pernah capai tahun 2018, yaitu kalau enggak salah pada kisaran 65 juta. Ini akan melampaui rekor kami. Tentunya untuk mencapai itu kan butuh tahapan-tahapan,” kata Alvin kepada Bisnis.

Di samping itu, Alvin menilai belum tersedianya penerbangan berjadwal di puluhan bandara berinfrastruktur kembali bermuara pada masalah daya beli serta tingkat kebutuhan warga.

“Ini memang menjadi tantangan kami. Pasar domestik kami ini, pertama, sensitif terhadap harga. Kedua, daya belinya tergolong rendah,” ujarnya.

Ia menambahkan, beberapa bandara skala kecil yang disasar untuk pengembangan penerbangan regional berperan sebagai feeder atau pengumpan menuju bandara utama. Karena itu, potensi pasar dan karakter tiap rute harus dianalisis secara terperinci demi menjamin aspek kelayakan bisnis sebelum maskapai memutuskan membuka jalur anyar.

Tantangan lain bersumber dari struktur biaya operasional pesawat turboprop. Alvin menilai kalkulasi biaya angkut per penumpang per kilometer pesawat baling-baling relatif lebih tinggi dibanding pesawat jet, sehingga berisiko menciptakan patokan harga tiket yang lebih mahal.

Alvin mengambil contoh untuk penerbangan rute Jakarta–Yogyakarta. Penerbangan Soekarno-Hatta–YIA menggunakan pesawat jet memiliki patokan tiket di angka Rp800.000–Rp900.000, sementara rute Halim Perdanakusuma–Adisucipto memakai pesawat baling-baling harganya bisa menembus di atas Rp2 juta.

“Ini menjadi tantangan juga karena daya beli kami ini masih rendah dan sensitif terhadap harga. Jadi ini yang membuat sangat berhati-hati dalam mengembangkan rute dengan menggunakan pesawat propeler,” tuturnya.

Alvin memandang peta arah rute yang diidentifikasi ATR mempunyai landasan kuat, khususnya untuk area luar Jawa dan penerbangan antarpulau. Pasar tersebut memiliki tingkat kebutuhan konektivitas tinggi akibat terbatasnya opsi moda transportasi darat alternatif.

“Sehingga rute lintas Jawa ini harus bersaing ketat dengan moda transportasi lain dan itu yang menyebabkan sejak tahun 2018 jumlah penumpang domestik Indonesia ini untuk nasional turun karena rute Jawanya ini turun drastis. Yang masih hidup adalah rute luar Jawa, antarpulau itu memang dibutuhkan itu,” ucapnya.

Kendati demikian, Alvin memberi catatan bahwa saran penggunaan armada turboprop perlu dipahami dari aspek kepentingan bisnis ATR selaku produsen pesawat regional. Kebutuhan penerbangan perintis di Indonesia menurutnya tak selalu memakai armada berkapasitas besar sekelas ATR 42 atau ATR 72.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index