JAKARTA - Bergabungnya Jay Herdman di Bali United untuk mengarungi Super League 2026-2027 mendapat perhatian. Statusnya selaku putra John Herdman, pelatih Timnas Indonesia, membuat kedatangannya jadi sorotan. Walau demikian, faktor tersebut dinilai tidak seharusnya menjadi fokus utama.
Pengamat sepak bola nasional, Gita Suwondo, menilai pemain berusia 22 tahun itu memiliki kesempatan untuk membuktikan kualitasnya bersama Bali United.
Bali United dianggap sebagai tempat tepat bagi pemain muda tersebut untuk menunjukkan kemampuannya di kompetisi kasta tertinggi sepak bola Indonesia.
Jay Herdman sendiri telah merasakan debut bersama Bali United ketika menghadapi Persib Bandung pada laga pamungkas Dewata Challenge Series 2026 di Stadion Kapten I Wayan Dipta, Gianyar, Selasa (18/8/2026) lalu.
Ia masuk pada babak kedua dan mendapatkan sekitar 11 menit bermain. Meskipun di laga debutnya ia juga melakukan kesalahan mengantisipasi bola silang Mariano Peralta yang menyebabkan Persib menyamakan kedudukan jadi 2-2 lewat Balsa Sekulic.
Bali United Jadi Panggung Pembuktian, Status Anak Pelatih Bukan Jaminan Bagi Gita Suwondo, kesempatan bermain di klub kebanggaan warga Bali harus dimanfaatkan Jay Herdman untuk menunjukkan bahwa dirinya memang memiliki kualitas layak untuk bersaing di level profesional.
"Menurut saya sih yang harus membuktikan Jay Herdman ya apakah dia benar-benar bagus atau tidak. Bali United kan salah satu tempat di mana dia bisa membuktikan dirinya bagus, klub yang bukan papan atas lagi dan bukan papan bawah tapi papan tengah," tutur pengamat yang biasa disapa Bung GAZ.
Menurutnya, pemain kelahiran Selandia Baru itu tidak cukup hanya mendapatkan kesempatan bermain sebagai pemain pengganti dan perlu bekerja keras agar mampu mendapatkan tempat di starting XI.
"Kemungkinannya masih bisa dan kalaupun sekarang cadangan dia harus buktikan dia bisa jadi pemain inti. Tidak hanya main sebentar seperti melawan Persib," imbuhnya.
Jay Herdman memang memiliki latar belakang yang membuat kedatangannya ke Indonesia mendapat perhatian lebih. Ia merupakan anak tertua John Herdman, pelatih asal Inggris yang kini menangani Timnas Indonesia.
Situasi tersebut kemudian memunculkan pembicaraan mengenai kemungkinan adanya faktor nepotisme. Tetapi, persoalan tersebut tidak perlu dibesar-besarkan selama ia mampu menunjukkan kualitasnya di lapangan.
"Kalau banyak kritik pastilah di kami kan sering dibilang itu nepotisme-nepotisme. sering dibilang bagian dari korupsi dan nepotisme," kata Gita Suwondo.
"Tapi, kalau saya bilang keluarga dari anaknya pelatih ya wajar saja jika disalurkan dengan bapaknya. Siapa sih anak pemain yang tidak disalurkan oleh bapaknya."
Kualitas Jay yang Akan Menjawab Keraguan, Tak Perlu Terjebak Label Nepotisme Ia melihat status Jay Herdman sebagai anak mantan pelatih Timnas Kanada itu tidak otomatis membuatnya menjadi pemain berkualitas.
Pada akhirnya, performa di lapangan yang akan menjadi ukuran sebenarnya.
"Sekarang kan tergantung si anak apakah bisa menunjukkan mempunyai kualitas atau cuma nebeng bapaknya aja," kata pengamat yang juga komentator Liga Belanda di KompasTV itu.
Apalagi pemain dengan tinggi 1,69 m itu datang ke Bali United dengan pengalaman sepak bola beragam. Sebelum berkarier di Indonesia, ia bermain di Kanada dan pernah memperkuat sejumlah klub, termasuk Vancouver Whitecaps, Vancouver FC, Whitecaps FC 2, dan Cavalry FC.
Ia juga memiliki pengalaman bermain di beberapa posisi. Saat tampil di MLS NEXT Pro dan bersama Vancouver Whitecaps, ia berperan sebagai gelandang. Di Canadian Premier League, ia dimainkan sebagai gelandang serang, sementara ketika memperkuat Cavalry FC, posisinya lebih ke lini depan.
Untuk itu Gita Suwondo menilai perdebatan mengenai nepotisme seharusnya tidak menutupi proses pembuktian yang harus dijalani Jay Herdman.
Kesempatan mungkin datang lebih mudah karena faktor tertentu, tetapi mempertahankan posisi tetap membutuhkan kemampuan.
"Jadi kalau saya pikir ngapain juga dipersoalin karena bagian dari nepotisme itu menurut saya tidak sama dengan korupsi. Kalau korupsi kan kejahatan, nepotisme bukan cuma harus dilihat apakah dia sekedar nepotisme atau bisa membuktikan dia seseorang atau sesuatu," pungkasnya.