Kepala Bappenas Sebut Dunia Sulit Tanpa Green Job

Kepala Bappenas Sebut Dunia Sulit Tanpa Green Job
Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Rachmat Pambudy. (Foto: NET)

JAKARTA — Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Rachmat Pambudy menyampaikan bahwa dunia bakal menghadapi kendala apabila pekerjaan hijau (green job) tidak lekas diciptakan.

“Kalau kami tidak hati-hati, tidak segera melahirkan green job lebih banyak, kami seluruh dunia akan mengalami kesulitan bersama,” ungkapnya dalam Indonesia’s Green Jobs Conference (IGJC) 2026 di Jakarta, Rabu.

Negara ini telah mematok jalur transisi hijau ke dalam agenda pembangunan nasional, lewat target porsi energi baru serta terbarukan di dalam bauran energi primer dari 20 persen pada 2025 menjadi 70 persen tepat pada tahun 2045. 

Rentang 50 persen dari sasaran tersebut disebut bakal membuka lapangan pekerjaan baru demi kebutuhan dalam negeri maupun global.

Di tengah pelaksanaan transisi hijau, dimensi manusia yang mengemban pekerjaan hijau menjadi salah satu unsur krusial yang telah dipetakan bakal terus tumbuh. 

Pekerjaan hijau sendiri merupakan bentuk pekerjaan layak yang turut serta melestarikan ataupun memulihkan lingkungan lewat keterampilan hijau, tata cara ramah lingkungan, hingga produk maupun jasa hijau.

Lebih jauh lagi, pekerjaan hijau diinformasikan telah merambah berbagai bidang ekonomi, mulai dari sektor energi, pengolahan, kehutanan (khususnya pertanian), serta bersinggungan pula dengan ragam pengelolaan pariwisata sampai sektor pesisir serta kelautan.

“Transformasi ini bukan sekedar mengubah tempat seseorang bekerja, melainkan juga mengubah bentuk pekerjaan, mengubah proses kerja, mengubah teknologi yang diterapkan, serta mengubah kompetensi yang dibutuhkan,” ujar Kepala Bappenas.

Berdasarkan catatan, jumlah tenaga kerja yang telah mengambil bagian secara langsung dalam pelestarian lingkungan tercatat sebesar 2,5 persen, atau sekitar 3,45 juta jiwa. 

Sementara itu, kelompok tenaga kerja potensial hijau mencapai 36,5 persen atau setara 49,12 juta orang yang mempunyai peluang besar melakukan transisi menuju pekerjaan hijau.

“Angka ini akan bisa ditingkatkan, bisa lebih luas dan bisa lebih banyak kalau kami punya kriteria baru. Orang yang bekerja di sektor pertanian, kehutanan, perikanan, itu sebagian bekerja di green job. Itu menurut pertimbangan saya. Mengapa? (Karena) semua pekerjaan yang menghasilkan emisi karbon rendah, menghasilkan konsumsi air rendah, menghasilkan dan menyerap energi yang hijau lebih banyak, maka itu masuk di dalam kategori green job,” kata Menteri PPN.

Oleh sebab itu, pihak kementerian giat merumuskan kriteria, indikator, hingga indeks anyar seputar pekerjaan hijau demi kepentingan nasional.

Guna menjalankan agenda pekerjaan hijau tersebut, ada tiga pendekatan utama yang disiapkan. Pertama, membangun ekosistem pendukung agar green job dapat berkembang. 

Kedua, memastikan kesiapan tenaga kerja lewat penyelenggaraan pendidikan serta pelatihan vokasi yang sanggup menjawab tantangan perubahan masa depan. Terakhir yakni menjalin kerja sama yang erat antara pemerintah, dunia usaha, dunia industri, serta dunia kerja.

“Mari kami jadikan transformasi hijau ini sebagai momentum untuk melahirkan tenaga kerja Indonesia yang future ready, serta menciptakan ekonomi yang tangguh, inklusif, sekaligus berkelanjutan,” ucap Rachmat Pambudy.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index