JAKARTA - PT Pertagas Niaga (PTGN) siap menampung gas biometana terkompresi (compressed biomethane gas/CBG) olahan PT reNIKOLA Primer Energi yang memanfaatkan limbah dari delapan pabrik minyak sawit PTPN IV PalmCo demi memperkokoh ketahanan energi nasional.
Direktur Utama PT Perkebunan Nusantara IV (PTPN IV) PalmCo Jatmiko K Santosa menyampaikan pemrosesan limbah kelapa sawit menjadi energi baru terbarukan ini merupakan wujud nyata eksekusi ekonomi sirkular pada internal perusahaan.
“Kolaborasi ini mencerminkan komitmen kami untuk meningkatkan keberlanjutan operasional sekaligus menciptakan nilai tambah dari sumber daya yang ada,” kata Jatmiko dalam keterangan resmi yang diterima di Jakarta, Jumat (11/9/2026).
Menurut dia, konversi emisi metana hasil limbah cair pabrik kelapa sawit menjadi energi terbarukan ini sekaligus menyokong agenda pembangunan rendah karbon di tanah air.
Pasokan CBG tersebut bakal diproduksi oleh PT reNIKOLA Primer Energi (RPE), anak perusahaan yang menginduk pada pengembang energi terbarukan reNIKOLA Holdings Sdn Bhd.
RPE sudah menyepakati perjanjian jual beli CBG kurun panjang bersama PTGN, yang merupakan anak usaha PT Pertamina Gas (Pertagas). Lewat kesepakatan itu, PTGN bertindak sebagai pihak penyerap CBG dalam jangka masa 15 tahun.
Pembangunan delapan klaster unit CBG tersebut ditaksir menelan dana investasi sekitar 45 juta dolar AS atau berkisar Rp790 miliar.
Kala tahapan konstruksi tuntas serta seluruh fasilitas beroperasi penuh, proyek ini diproyeksikan sanggup menyuplai energi terbarukan melampaui 830.000 MMBtu tiap tahunnya.
Direktur Strategy and Sustainability PTPN IV PalmCo Ugun Untaryo menyebutkan pembangunan delapan fasilitas ini masuk dalam manifestasi peta jalan dekarbonisasi PalmCo yang sejalan dengan target Nol Emisi Karbon nasional.
Di ranah rantai pasok ini, PalmCo menyiagakan pasokan bahan baku yang berasal dari limbah pabrik sawit, reNIKOLA membangun sarana pengolahan, sementara Pertagas Niaga bertugas menyerap CBG untuk disalurkan menuju konsumen sektor industri.
Chief Operating Officer reNIKOLA Amran Yusof menilai pola ini menjalin keterikatan ketersediaan stok bahan baku, sarana gas, dan permintaan pasar jangka panjang demi membangun ekosistem biometana di Indonesia.
“Dengan mempertemukan pemasok bahan baku, penyedia infrastruktur gas, dan permintaan pasar jangka panjang, kami membangun ekosistem biometana yang dapat dikembangkan secara luas,” kata Amran.
Guna melancarkan proses penyaluran, PTGN merancang pembangunan stasiun injeksi biometana pada area sekitar Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sei Mangkei.
Sarana ini disiapkan untuk menyambungkan pasokan CBG dari pabrik kelapa sawit kemudian menginjeksikannya menuju saluran distribusi gas yang telah beroperasi.
Direktur Utama PTGN Toto Yulianto mengungkapkan daya guna jaringan gas tersebut mampu memperluas jangkauan konsumen industri akan akses energi rendah karbon seraya mengoptimalkan fasilitas yang ada.
“Melalui kolaborasi ini, kami menciptakan jalur bagi biometana untuk diintegrasikan ke dalam jaringan gas yang ada, memperluas akses terhadap energi yang lebih bersih sekaligus memanfaatkan infrastruktur yang telah tersedia,” kata Toto.
Dari aspek teknis, fasilitas CBG ini menangkap gas metana dari proses penguraian limbah cair pabrik kelapa sawit atau palm oil mill effluent (POME), lalu mengolahnya menjadi biometana.
Mengacu pada hitungan perusahaan, beroperasinya delapan fasilitas ini berpotensi menekan emisi gas rumah kaca hingga setara 320.000 ton karbon dioksida (CO2) per tahun.
Pihak perusahaan mengutarakan bahwa pemangkasan emisi tersebut setara dengan menghindari penggunaan sekitar 161 juta kilogram (kg) batu bara per tahun.
Selain dampak positif terhadap lingkungan, pihak perusahaan memperkirakan pengerjaan dan pengoperasian delapan sarana CBG ini berpotensi menghidupkan ribuan lapangan kerja hijau serta memperkuat rantai pasok lokal di sekeliling wilayah operasional perkebunan.