Pefindo: Penerbitan Surat Utang Bank Capai Rp13,98 Triliun

Pefindo: Penerbitan Surat Utang Bank Capai Rp13,98 Triliun
PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) [FOTO: NET].

JAKARTA - PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) memandang prospek obligasi sektor perbankan masih berada di jalur positif, kendati proses penerbitannya diprediksi berlangsung lebih selektif.

Fixed Income Analyst Pefindo, Ahmad Nasrudin, menyampaikan bahwa sampai periode Juli 2026, realisasi penerbitan surat utang dari sektor perbankan sudah menyentuh kisaran Rp13,98 triliun. 

Dorongan kebutuhan refinancing masih menjadi penopang utama mengingat terdapat sekitar Rp5,75 triliun surat utang bank yang dijadwalkan jatuh tempo pada kuartal IV.

“Selain itu, per akhir Agustus Pefindo masih memiliki mandat penerbitan dari sektor perbankan sebesar Rp2,75 triliun,” ungkapnya kepada Bisnis, dikutip pada Senin (14/9/2026).

Menurut pandangan Ahmad, obligasi tetap memiliki urgensi tinggi sebagai opsi sumber dana pelengkap bagi industri perbankan, utamanya untuk penganekaragaman portofolio pendanaan serta mengamankan modal dengan tenor yang lebih panjang dibanding Dana Pihak Ketiga (DPK).

Kebutuhan akan penerbitan obligasi juga berpotensi tereskalasi jika laju penyaluran kredit konsisten melampaui pertumbuhan penyerapan dana masyarakat.

Per Juli 2026, kredit perbankan mencatatkan pertumbuhan 13,58% YoY, berada di atas laju pertumbuhan DPK sebesar 11,21%. Kendati demikian, Ahmad menjelaskan kondisi tersebut belum memicu tekanan likuiditas karena rasio AL/DPK masih terjaga di level 23,10% dan LCR mencapai 187,5%, diimbangi ketahanan permodalan yang solid.

“Karena itu, kami melihat obligasi tetap dapat menjadi sumber pendanaan yang penting, tetapi lebih sebagai pelengkap DPK untuk diversifikasi sumber dana dan memperoleh pendanaan dengan tenor lebih panjang, bukan menggantikan DPK sebagai sumber pendanaan utama,” jelasnya.

Ia menambahkan, tantangan mendasar bagi perbankan saat ini adalah kemampuan menyajikan yield yang cukup atraktif jika dibandingkan instrumen berisiko milik pemerintah, tanpa membebankan cost of fund secara berlebihan. 

Di samping itu, kompetisi juga datang dari instrumen SRBI, walau perbandingannya tidak sepenuhnya identik berhubung tenornya cenderung lebih pendek.

“Karena itu, bank perlu memperhatikan tidak hanya level yield SBN, tetapi juga spread terhadap instrumen alternatif, kondisi likuiditas pasar, dan potensi new issue premium. Bagi bank dengan rating lebih rendah, tantangannya lebih besar karena premi yang harus dibayar meningkat cukup cepat seiring penurunan kualitas kredit,” bebernya.

Maka dari itu, Pefindo menilai dalam dinamika pasar terkini, daya serap investor atas obligasi perbankan bakal amat ditentukan oleh keseimbangan antara pricing, durasi tenor, kualitas kredit issuer, serta kondisi pasar sewaktu penawaran dilangsungkan.

Ketika imbal hasil SBN dan SRBI masih bertahan tinggi, para pemodal bakal membandingkan imbal hasil obligasi bank terhadap produk pemerintah yang membawa tingkat risiko lebih minim. 

Lantaran itu, penawaran penerbitan cenderung lebih mudah diserap apabila spread yang disajikan sanggup memberikan kompensasi sepadan atas risiko kredit dan likuiditas.

Selain variabel pricing, Ahmad membeberkan bahwa fundamental penerbit (issuer) beserta struktur penawaran bakal menjadi faktor pembeda utama antar-lembaga bank. 

Bank yang mengantongi rating tinggi, struktur permodalan kokoh, kualitas aset yang sehat, serta likuiditas longgar cenderung memegang fleksibilitas lebih luas dalam memasuki pasar modal.

Di sisi lain, batas tenor juga menentukan segmentasi basis investor, lantaran profil kebutuhan investor jangka pendek berbeda dengan investor institusional yang berorientasi horizon jangka panjang.

“Dengan demikian, keberhasilan penerbitan ke depan kemungkinan akan lebih bergantung pada kondisi masing-masing issuer serta daya tarik instrumennya dibandingkan dengan benchmark yang tersedia di pasar. Pasar yang lebih selektif membuat perbedaan kualitas kredit, spread, tenor, dan timing penerbitan semakin penting dalam menentukan minat investor,” tutupnya.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index