Evaluasi Kinerja Saham IPO Jumbo: Dari BUKA hingga AMMN

Rabu, 22 Juli 2026 | 00:19:01 WIB
Nasib Beragam Saham IPO Jumbo RI: BUKA, GOTO, MTEL, AMMN [FOTO: NET].

JAKARTA - Gelombang penawaran umum perdana atau initial public offering (IPO) berskala besar telah meramaikan pasar modal Indonesia selama kurun waktu lima tahun terakhir. Sejumlah emiten ternama seperti BUKA, MTEL, GOTO, serta AMMN sukses menggalang dana hingga menembus angka triliunan rupiah dari para investor dengan membawa narasi perkembangan yang berlainan.

Memasuki lima tahun berselang, rekam jejak saham-saham IPO berukuran besar tersebut memperlihatkan pencapaian yang bervariasi. Besarnya perolehan dana ketika penawaran umum perdana berlangsung ternyata tidak serta-merta berjalan lurus dengan performa saham ataupun fundamental dari masing-masing perseroan. 

Sebagian korporasi terpantau masih berjuang memulihkan keyakinan penanam modal, sementara sebagian lainnya mulai memperlihatkan eskalasi bisnis yang tergolong lebih kokoh.

PT Bukalapak.com Tbk. (BUKA) sampai saat ini masih memegang rekor sebagai emiten dengan perolehan dana IPO terbesar di Tanah Air, yakni menyentuh kisaran Rp21,9 triliun pada tahun 2021.

 Kendati demikian, posisi harga sahamnya sekarang justru berada di kisaran Rp111 per lembar atau mengalami penyusutan sekitar 86,94% apabila dibandingkan dengan nilai saat IPO yang berada di angka Rp850 per lembar.

Di tengah himpitan pergerakan harga saham tersebut, kondisi fundamental perseroan dilaporkan masih mengalami fluktuasi. Direktur Bukalapak Victor Putra Lesmana menjelaskan bahwa naik turunnya laba BUKA sebagian besar masih dipengaruhi oleh unsur keuntungan maupun kerugian yang belum terealisasi (unrealized gains/losses).

“Padahal, perubahan tersebut sebagian besar berasal dari keuntungan atau kerugian yang belum terealisasi,” ujar Victor dalam earnings call belum lama ini.

Victor turut menambahkan bahwa rencana pembagian dividen masih belum menjadi langkah strategis yang tepat untuk diaplikasikan dalam jangka pendek. 

Pihak manajemen tetap mematok target agar pembagian dividen baru bisa dieksekusi manakala tingkat profitabilitas serta EBITDA disesuaikan (adjusted EBITDA) telah menyentuh skala yang memadai.

Pada sisi yang berbeda, PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk. (GOTO) terpantau mulai memperlihatkan adanya pemulihan pada sisi fundamental. 

Korporasi di sektor teknologi tersebut sukses mencatatkan laba bersih senilai Rp257,94 miliar pada sepanjang kuartal I/2026, sekaligus berbalik arah dari posisi rugi bersih yang didapatkan pada rentang waktu serupa tahun sebelumnya.

Meskipun demikian, nilai saham GOTO tampak masih tertahan di kisaran Rp50 per lembar, yang mana posisi ini terpaut jauh di bawah harga ketika melakukan IPO sebesar Rp338. 

Presiden Direktur & Group CEO GOTO Hans Patuwo menyatakan bahwa perseroan akan terus mengambil sikap penuh kehati-hatian di tengah situasi ekonomi yang penuh ketidakpastian.

“Kami telah mencapai adjusted EBITDA Rp907 miliar pada kuartal I/2026. Kami memilih untuk konservatif dan tidak menaikkan panduan kami di tengah ketidakpastian makro ekonomi,” ucap Hans.

Berbanding terbalik dengan kedua emiten yang berasal dari sektor teknologi tersebut, PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk. (MTEL) justru menampilkan rekam jejak kinerja yang cenderung stabil semenjak resmi mencatatkan diri di Bursa Efek Indonesia. 

Entitas anak usaha Telkom Indonesia ini tercatat konsisten membagikan dividen sejak tahun buku 2022 serta ditopang oleh model bisnis yang memiliki arus kas stabil, meskipun nilai sahamnya secara bertahap masih berada di bawah patokan harga IPO.

Sementara itu, PT Amman Mineral Internasional Tbk. (AMMN) menjelma menjadi salah satu emiten IPO berskala jumbo yang memiliki performa pasar paling mencolok. Perusahaan tambang yang berfokus pada komoditas tembaga dan emas ini berhasil menghimpun dana sebesar Rp10,73 triliun ketika melaksanakan IPO pada tahun 2023.

Bergerak dari harga penawaran awal sebesar Rp1.695 per lembar, nilai saham AMMN saat ini telah melonjak hingga menyentuh level Rp4.290 per lembar. Tidak hanya itu, korporasi ini juga sukses mengantongi laba bersih senilai US$162 juta pada kuartal I/2026, meski hingga detik ini belum merealisasikan pembagian dividen kepada pemegang saham.

Direktur Purwanto Asset Management Edwin Sebayang berpendapat bahwa dinamika perjalanan dari masing-masing emiten tersebut membuktikan bahwa besaran dana hasil IPO bukanlah indikator penentu utama yang memengaruhi performa saham selepas perusahaan melenggang di bursa.

“Besarnya dana IPO tidak selalu berbanding lurus dengan kinerja harga saham setelah listing. Pada akhirnya yang menentukan adalah pertumbuhan laba, valuasi, kualitas manajemen, serta prospek industrinya," ujar Edwin, Selasa (21/7/2026).

Menurut pandangan Edwin, pergeseran kondisi tersebut tampak begitu nyata apabila berkaca pada kasus BUKA. Korporasi yang sempat dielu-elukan sebagai simbol kebangkitan ekonomi digital kini lebih memusatkan perhatian pada efisiensi operasional serta bertumpu pada kekuatan posisi kas internal.

“Namun, BUKA masih membutuhkan katalis pertumbuhan yang lebih nyata agara dapat mengembalikan kepercayaan pasar,” ucapnya.

Berkenaan dengan GOTO, Edwin menilai bahwa korporasi tersebut telah melangkah ke fase baru dengan menitikberatkan orientasi pada pencapaian profitabilitas. Kendati demikian, perseroan dinilai masih harus menghadapi ujian berat dalam mempertahankan tren pertumbuhan di tengah sengitnya tingkat persaingan melawan Grab, ShopeeFood, serta TikTok.

Di luar ranah industri teknologi, Edwin menunjuk MTEL sebagai salah satu emiten IPO jumbo yang memiliki kualitas fundamental paling unggul berkat kepemilikan pendapatan berulang (recurring income), kontrak jangka panjang, kestabilan arus kas, serta tingkat margin keuntungan yang tinggi.

Di sisi lain, Edwin memandang AMMN sebagai emiten yang menyimpan prospek paling menjanjikan hingga penghujung tahun 2026. Menurut penilaiannya, korporasi tersebut memegang kombinasi faktor pendorong yang kokoh, mulai dari ketersediaan cadangan tambang berjangka panjang, progres pembangunan fasilitas smelter, hilirisasi produk, sampai pada potensi lonjakan permintaan tembaga dan emas yang sejalan dengan ekspansi kendaraan listrik, fasilitas pusat data, teknologi kecerdasan buatan, serta sektor energi terbarukan.

Meskipun demikian, Edwin tetap memberikan peringatan agar para investor senantiasa menjaga kedisiplinan dalam memantau aspek valuasi mengingat ekspektasi pasar terhadap saham AMMN sudah berada di posisi yang cukup tinggi.

Terkini