Prediksi BMKG: Kemarau 2026 Tak Sekering Tahun 1997

Selasa, 04 Agustus 2026 | 21:21:31 WIB
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan kondisi musim kemarau 2026 berpotensi tidak sekering saat El Nino 1997, meskipun kondisi El Nino saat ini telah memasuki kategori kuat. (Foto: NET)

JAKARTA - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan kondisi musim kemarau 2026 berpotensi tidak sekering saat El Nino 1997, meskipun kondisi El Nino saat ini telah memasuki kategori kuat.

Dalam Dialog Nasional yang diselenggarakan Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), di Jakarta, Selasa, Pelaksana Harian Deputi Bidang Klimatologi BMKG sekaligus Direktur Perubahan Iklim Fachri Radjab menyatakan berdasarkan analisis perbandingan kondisi peluang hujan bulanan, musim kemarau 2026 secara umum diperkirakan tidak lebih kering dibandingkan periode El Nino 1997.

Kendati demikian, BMKG mencatat sejumlah wilayah seperti Kalimantan, Papua, dan Jawa pada September-November 2026 berpotensi mengalami kondisi lebih kering dibandingkan 1997. 

Fachri menerangkan pada Agustus 2026 kondisi kemarau tidak menunjukkan peluang lebih kering dibandingkan 1997. 

Akan tetapi, mulai September hingga November 2026 sejumlah wilayah memiliki probabilitas lebih kering cukup tinggi, antara lain sebagian besar Kalimantan dan Papua dengan peluang mencapai 80-90 persen, beberapa wilayah di Pulau Jawa pada Oktober, serta sejumlah daerah lain pada November.

BMKG memprakirakan puncak musim kemarau 2026 berlangsung pada Agustus hingga September. Sekitar 54 persen wilayah Indonesia diestimasikan mengalami puncak kemarau pada Agustus, sedangkan sebagian wilayah lainnya akan mengalaminya pada September.

Di samping membandingkan dengan El Nino 1997, BMKG turut mengkaji karakteristik El Nino 2026 terhadap sejumlah kejadian sebelumnya. 

Fachri menuturkan berdasarkan perbandingan dengan tiga kejadian El Nino dalam 15 tahun terakhir, yakni pada 2015, 2019, and 2023, kondisi kemarau 2026 diestimasikan lebih mendekati pola El Nino 2023.

Fachri menyampaikan walaupun kondisi kemarau 2026 diestimasikan tidak sekering El Nino 1997, pemerintah tetap wajib mewaspadai dampak lanjutan, salah satunya peningkatan ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla). 

Berdasarkan pandangannya, manakala kondisi lahan semakin kering, potensi timbulnya titik panas atau hotspot pun bertambah.

Berdasarkan pengamatan BMKG sampai 2 Agustus 2026, terdata sekitar 5.690 titik panas yang tersebar di beberapa wilayah Indonesia. 

"Ini juga perlu kami antisipasi mengingat bulan Agustus and September kami sudah masuk ke puncak musim kemarau. Artinya potensi hotspot juga akan semakin meningkat," ujar Fachri.

Sebelumnya, BMKG mengemukakan bahwa El Nino 2026 telah masuk kategori kuat dan masih berpotensi menguat menjadi sangat kuat. Pengaruh fenomena tersebut utamanya dirasakan di kawasan selatan garis khatulistiwa, seperti Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, Bali, Jawa, Sumatera bagian selatan, serta Papua bagian selatan.

Guna mengantisipasi dampak El Nino, BMKG senantiasa meningkatkan langkah mitigasi, salah satunya lewat operasi modifikasi cuaca (OMC) demi menjaga ketersediaan air serta menekan risiko kekeringan. 

Operasi modifikasi cuaca dijalankan bersinergi dengan kementerian/lembaga terkait guna memperkaya pasokan air ke sejumlah waduk yang berfungsi bagi kebutuhan air baku, sektor pertanian, serta pembangkit listrik tenaga air (PLTA).

Terkini