JAKARTA — Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia akan menyiapkan kontrak jangka panjang untuk impor minyak dari Rusia.
Bahlil mengatakan, proses impor minyak mentah dari Rusia terus berlanjut. Dia menuturkan, tahap pertama impor minyak telah terealisasi. Berdasarkan catatan, volume impor minyak mentah dari Rusia tahap pertama tersebut mencapai 770.000 barel.
Pembelian itu merupakan yang pertama sejak kesepakatan yang dicapai oleh kedua negara pada April 2026. Indonesia semula disebut akan mengimpor sekitar 150 juta barel minyak mentah dari Negeri Beruang Merah itu.
"Tahap pertama sudah," ujar Bahlil saat ditemui di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta pada Rabu (5/8/2026). Adapun, dia mengatakan, proses pengadaan tahap kedua sedang berjalan.
Ke depannya, kata Bahlil, pemerintah akan membuat kontrak pengadaan jangka panjang untuk impor tersebut. "Nanti kami akan bikin kontrak jangka panjang," katanya.
Bahlil juga menegaskan mekanisme pengadaan minyak dari Rusia dilakukan langsung oleh negara, bukan oleh PT Pertamina (Persero). Proses impor dilakukan melalui badan layanan umum (BLU) Lemigas.
Menurutnya, skema tersebut merupakan bagian dari kebijakan pemerintah untuk menjamin kebutuhan energi nasional.
Dia menjelaskan, setelah minyak diperoleh negara, pasokan tersebut kemudian dialokasikan untuk memenuhi kepentingan masyarakat dan kebutuhan energi nasional.
Lebih lanjut, Bahlil menekankan bahwa kebijakan tersebut sejalan dengan prinsip politik luar negeri Indonesia yang menganut asas bebas aktif.
Menurutnya, Indonesia berhak menentukan sumber pasokan energinya secara independen tanpa tekanan dari negara lain.