Kerugian Macet Rp77 Triliun, Transportasi Massal 20 Kota Didorong

Kerugian Macet Rp77 Triliun, Transportasi Massal 20 Kota Didorong
Direktur Jenderal Angkutan Jalan Direktorat Jenderal Perhubungan Darat Muiz Thohir. (Foto: NET)

JAKARTA — Kementerian Perhubungan menyatakan bahwa saat ini terdapat 172,94 juta unit kendaraan bermotor yang membebani infrastruktur jalan raya di Indonesia serta menimbulkan kemacetan lalu lintas.

Dampaknya, volume kendaraan yang terus bertambah sekitar 4,5% per tahun tersebut mengakibatkan kerugian akibat kemacetan secara nasional ditaksir mencapai angka Rp77 triliun setiap tahunnya.

Pejabat terkait menyampaikan bahwa layanan angkutan umum yang terjangkau masih perlu digalakkan guna mengajak masyarakat beralih menggunakan moda transportasi massal.

“Sebagai langkah konkret, pemerintah menggulirkan Indonesia Mass Transit Project [Mastran] yang memprioritaskan pengembangan di 20 kawasan perkotaan jangka menengah,” ujarnya dalam Seminar Nasional MTI 2026, dikutip pada Rabu (5/8/2026).

Pihak kementerian mengemukakan bahwa angkutan umum yang terpadu dan berkelanjutan hadir sebagai solusi atas masalah kemacetan, tingginya ongkos perjalanan, serta ketergantungan warga terhadap kendaraan pribadi.

Walaupun pihak pusat telah menginisiasi kebijakan tersebut, faktor penentu keberhasilan akhirnya tetap bertumpu pada keseriusan pemerintah daerah setempat.

Urgensi pembenahan transportasi perkotaan kian mendesak sebab beban pengeluaran transportasi masih tergolong tinggi, yakni mencapai 16% hingga 24% dari total pendapatan rumah tangga berdasarkan data BPS 2023 yang jauh melampaui batas standar SDGs 11.2 sebesar 5%.

Selain itu, sektor perhubungan juga menyerap porsi subsidi energi yang sangat besar hingga mencapai Rp300 triliun per tahun, di tengah kondisi di mana 58% penduduk bekerja pada sektor informal dengan tingkat penghasilan di bawah upah minimum provinsi (UMP).

"Tanpa transportasi massal yang terjangkau, target pertumbuhan ekonomi 8% akan sulit dicapai karena mobilitas yang terbatas memutus akses masyarakat ke pekerjaan, pendidikan, dan layanan publik," ujarnya.

Lebih lanjut, saat ini pemerintah tengah memfokuskan pembangunan di Wilayah Mebidang (Medan, Binjai, Deli Serdang) serta Wilayah BBMA/Bandung Basin Metropolitan Area (Kota Bandung, Kota Cimahi, Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Barat, dan Kabupaten Sumedang) sebagai proyek percontohan Mastran berkat sokongan dana dari World Bank dan AFD.

Pada kawasan Mebidang, cakupan proyek meliputi jalur khusus sepanjang 21 km, 31 unit halte on-corridor serta 681 unit halte off-corridor, 12 trayek rute, dan 273 armada bus dengan proyeksi sebanyak 154.851 orang penumpang per hari pada awal masa operasi 2027 yang terintegrasi langsung dengan 109 persimpangan ATCS.

Sedangkan pada kawasan BBMA, proyek mencakup jalur khusus sepanjang 21 km, 34 unit halte on-corridor serta 719 unit halte off-corridor, 18 trayek rute, dan 478 armada bus dengan proyeksi mencapai 204.736 orang penumpang setiap harinya yang terpadu dengan 65 persimpangan ATCS.

Parameter utama keberhasilan dari program ini mencakup terbentuknya kelembagaan pengelola, perluasan akses kesempatan kerja, pemangkasan durasi perjalanan, lonjakan volume penumpang harian, tingkat kepuasan pengguna, serta peningkatan partisipasi tenaga kerja perempuan.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index