Dorong Efisiensi Energi, BPH Migas Perluas Jaringan Gas Di Bojonegoro Jawa

Minggu, 09 Agustus 2026 | 15:26:31 WIB
Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) tengah memaksimalkan pendayagunaan jaringan gas (jargas) bagi para konsumen sektor rumah tangga serta pelanggan kecil di kawasan Bojonegoro, Jawa Timur. (Foto: NET)

JAKARTA - Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) tengah memaksimalkan pendayagunaan jaringan gas (jargas) bagi para konsumen sektor rumah tangga serta pelanggan kecil di kawasan Bojonegoro, Jawa Timur.

Pimpinan BPH Migas Wahyudi Anas dalam keterangannya di Jakarta, Minggu, menuturkan wilayah Bojonegoro mempunyai peluang besar bagi ekspansi jargas, baik lewat skema APBN, bantuan pemerintah daerah melalui APBD, maupun pembangunan jargas mandiri yang dilakukan PT PGN (Persero) Tbk.

Menurut dia, gas bumi adalah komoditas energi yang lebih efisien, aman, serta ekonomis, apabila dibandingkan dengan memakai bahan bakar lain.

Saat ini pendayagunaan gas bumi di Bojonegoro mencapai sekitar 55 persen dari total alokasi yang tersedia. Kondisi tersebut menandakan masih terbukanya kesempatan memperbanyak jumlah sambungan jargas bagi masyarakat.

"Kemudian, asas manfaat ini pasti untuk mendorong efisiensi dalam rangka pembelian bahan bakar. Dengan total volume (gas bumi) yang sudah dimanfaatkan kurang lebih baru 55 persen dari total alokasi, dan dari sisi penggunaan gas bumi ternyata dapat memberikan efisiensi hampir 45 persen (pembiayaan) dan itu sangat membantu masyarakat. Artinya mengurangi cost (biaya) pengeluaran per bulan," ujar Wahyudi dalam Bimbingan Teknis dan Penyebarluasan Informasi mengenai Pengaturan serta Pengawasan Gas Bumi Melalui Pipa di Bojonegoro, Jawa Timur, Sabtu (8/8/2026).

Wahyudi juga menambahkan ongkos penggunaan jargas yang tergolong rendah membuat warga dapat mengatur pengeluaran rumah tangga untuk keperluan penting lainnya.

Selain dipergunakan untuk memasak, jargas juga bisa dimanfaatkan untuk aktivitas usaha mikro serta pemanas air.

"Masyarakat pengguna jargas hanya membayar gas bumi (jargas) ada yang kurang lebih Rp25 ribu, ada yang Rp42 ribu, ada yang Rp60 ribu, ada yang Rp70 ribu per bulan, tergantung konsumsinya. Dan itu sudah bisa digunakan untuk produksi UMKM. Selain digunakan untuk masak, jargas juga dimanfaatkan oleh masyarakat untuk pemanas air. Jadi, sangat aman dan optimal," jelasnya.

Sebagai daerah penghasil migas, Bojonegoro pantas memperoleh manfaat yang lebih besar dari cadangan energi yang dipunyainya.

Karena itu BPH Migas bersama Komisi XII DPR bakal terus melaksanakan penyebarluasan informasi supaya warga semakin siap memakai gas bumi melalui jaringan pipa.

"BPH Migas bersama Komisi XII DPR RI ingin terus melakukan sosialisasi ini agar masyarakat lebih siap untuk memanfaatkan menggunakan jargas, untuk mendorong dan mendukung Astacita pemerintah dengan kemandirian energi. Ini penting, karena sumber energi ada di Bojonegoro dan wajib dimanfaatkan untuk masyarakat Bojonegoro," tuturnya.

Anggota Komisi XII DPR RI Ratna Juwita Sari menilai program jargas telah memberikan dampak nyata bagi penduduk Bojonegoro dan berharap jumlah sambungan jargas bisa terus ditambah.

"Kami ucapkan terima kasih kepada BPH Migas, melihat bagaimana 16.200 sambungan jargas selama ini sudah terpasang di Bojonegoro dan sudah dimanfaatkan dengan maksimal. Kami mewakili masyarakat Bojonegoro, mohon dukungannya supaya bisa ditambah lagi (sambungan jargas) dan bisa membantu perekonomian masyarakat dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara umum melalui support BPH Migas yang sangat luar biasa," ujarnya.

Di kawasan Bojonegoro, jargas sudah beroperasi di Kecamatan Bojonegoro, Ngasem, dan Gayam, yang menjadi bagian dari area operasional PGN Sales and Operation Regional (SOR) III.

General Manager PGN SOR III Hedi Hedianto menyatakan pihaknya berkomitmen menjalankan penugasan negara dengan menjaga keandalan pasokan, infrastruktur, serta layanan kepada pelanggan.

"Ini adalah sinergi pemerintah termasuk BPH Migas, pemerintah daerah, dan tokoh-tokoh masyarakat, sehingga kami bisa menjalankan penugasan dari pemerintah untuk menyalurkan gas bumi melalui pipa kepada masyarakat. Melalui peranan dalam menjaga keandalan pasokan, infrastruktur gas bumi, dan pelayanan kepada masyarakat, kami bersama-sama memastikan pelayanan terbaik untuk mendukung asta cita pemerintah dalam menjaga ketahanan energi nasional," ucapnya.

Suharsini (54), pemakai jargas rumah tangga, menyatakan penggunaan gas bumi mempermudah kegiatan keseharian serta menekan kekhawatiran terkait ketersediaan LPG.

"Satu hari itu saya lima kali memasak air panas, dan kita nggak usah bingung cari gas (tabung) kalau ada kelangkaan. Sejauh ini jargas PGN tidak ada kendala dan harganya menurut saya sudah imbang Rp4.250 per meter kubik," ucapnya.

Pelaku bisnis mikro Dwi Merawati (46) juga mengaku pengeluaran usahanya menjadi lebih irit semenjak memakai jargas.

"Untuk harganya (jargas) tiap bulan habis sekitar Rp60 ribu hingga Rp70 ribu," terangnya.

Sementara itu Ahmad Arief Mardianto (48), pengguna jargas kategori pelanggan kecil di sebuah rumah makan cepat saji, menyampaikan biaya operasional usahanya berkurang cukup drastis setelah beralih dari LPG ke jargas.

"Dulu pakai gas tabung pengeluaran rata-rata Rp8,3 juta, setelah pakai jargas dengan harga per meter kubik Rp10 ribu, kita bisa saving (hemat) dengan per bulan habis rata-rata Rp5,5 juta. Dan dari segi keamanan, jargas lebih aman tinggal narik tuas saja itu sudah bisa lancar," sebutnya.

Terkini