Ekspor Indonesia Juli 2026 Diprediksi Membaik Di Tengah Tantangan Biaya Produksi

Minggu, 09 Agustus 2026 | 16:25:31 WIB
Ketua Umum Apindo Shinta W. Kamdani. (Foto: NET)

JAKARTA — Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) memandang bahwa performa ekspor tanah air berpotensi bangkit pada Juli 2026 seiring dengan mulai meredanya ketidakpastian serta volatilitas di pasar global. 

Meskipun demikian, membumbungnya biaya produksi tetap menjadi ancaman terhadap kesinambungan pemulihan ekspor tersebut.

Kementerian Perdagangan (Kemendag) menaruh harapan besar neraca perdagangan Indonesia kembali surplus pada Juli 2026 seusai membukukan defisit selama dua bulan beruntun pada Mei serta Juni. Walau demikian, pengerutan defisit pada Juni menjadi indikator perbaikan performa perdagangan.

Berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik (BPS), defisit neraca perdagangan mencapai US$1,61 miliar pada Mei 2026, sebelum akhirnya menyusut menjadi US$0,45 miliar pada Juni 2026.

Ketua Umum Apindo Shinta W. Kamdani menyatakan bahwa optimisme Kemendag terhadap pemulihan performa perdagangan Indonesia pada Juli 2026 mempunyai landasan yang cukup kuat. 

Menurut Shinta, tekanan terhadap ekspor dalam beberapa waktu terakhir utamanya bersumber dari inflasi yang dipicu lonjakan biaya produksi serta kontraksi permintaan pasar ekspor akibat dampak krisis energi global.

“Dua faktor yang menciptakan tekanan besar terhadap kinerja ekspor nasional adalah cost-push inflation di sisi produksi dan kontraksi demand pasar ekspor karena imbas dari shock krisis energi global. Kedua faktor ini masih terus berlangsung,” kata Shinta, Minggu (9/8/2026).

Shinta mengutarakan bahwa ketidakpastian serta volatilitas pasar global dalam rentang satu bulan terakhir relatif lebih terkendali. 

Situasi tersebut mendongkrak keyakinan produsen di dalam negeri maupun pembeli di luar negeri guna menaikkan produktivitas secara bertahap, sehingga diantisipasi mampu memacu perbaikan performa ekspor nasional.

Akan tetapi, Shinta menilai pemulihan itu belum otomatis menjamin neraca perdagangan kembali membukukan surplus pada Juli 2026. 

Pasalnya, beban impor minyak serta gas (migas) masih masif, sementara situasi global belum sepenuhnya kondusif mengingat tekanan cost-push inflation masih berjalan dan permintaan pasar ekspor masih beradaptasi dengan dampak krisis global.

“Kami cukup confidence bahwa kinerja ekspor di Juli setidaknya bisa lebih tinggi dibandingkan Juni 2026 atau empat bulan sebelumnya yang diwarnai shock dan volatilitas akibat krisis geopolitik dan krisis energi,” ujarnya.

Lebih lanjut, Shinta memproyeksikan sektor manufaktur bakal menjadi salah satu penopang performa ekspor Indonesia dalam rentang waktu singkat, utamanya industri pengolahan nikel serta industri elektronik. 

Menurutnya, kedua sektor tersebut masih memperoleh dorongan dari ekspansi industri digital serta adopsi kecerdasan buatan (AI) yang terus berkembang pada berbagai bidang ekonomi.

Di samping itu, ekspor crude palm oil (CPO), biofuel, serta batu bara juga mempunyai peluang mengalami kenaikan. Hal tersebut disetir oleh kebutuhan sejumlah negara guna mengatasi tekanan krisis energi serta menjalankan substitusi minyak dan gas.

Shinta turut membuka peluang perbaikan ekspor produk fast-moving consumer goods (FMCG) seirama dengan mulai meredanya tekanan inflasi di sejumlah negara destinasi ekspor.

“Tidak tertutup kemungkinan perbaikan kinerja juga jg terjadi di sektor-sektor lain seperti ekspor FMCG karena tekanan inflasi di berbagai pasar tujuan ekspor melandai sehingga daya beli pasar ekspor terhadap ekspor produk-produk FMCG asal Indonesia menjadi lebih besar dan bisa turut mendongkrak kinerja ekspor nasional,” imbuhnya.

Sekalipun prospek ekspor mulai membaik, Apindo mengingatkan bahwa pemulihan tersebut masih rapuh. Shinta menilai para pelaku usaha belum sanggup sepenuhnya menaikkan kapasitas produksi karena tekanan biaya masih tinggi.

Dia menegaskan bahwa peluang pemulihan performa ekspor sewaktu-waktu dapat berputar arah. Oleh karena itu, pemerintah bersama pelaku usaha dipandang tidak boleh terlena atau terlampau percaya diri bahwa performa ekspor bakal terus membaik.

Shinta memaparkan cost-push inflation masih terjadi sebagai akibat dari kenaikan biaya produksi serta bahan baku impor. Keadaan tersebut lantas membatasi ruang para pelaku usaha serta eksportir untuk menjalankan ekspansi produksi dikarenakan beban ekspansi yang kian mahal.

“Cost push inflation ini juga menciptakan keterbatasan di sisi pelaku usaha dan eksportir terkait sejauh mana kami bisa melakukan ekspansi produksi karena beban ekspansi yang semakin tinggi atau tidak affordable,” jelasnya.

Pada sisi lain, pemulihan permintaan global masih berjalan lamban. Pasar ekspor masih menghadapi ketidakpastian ekonomi yang sanggup memengaruhi inflasi, lead time, biaya perdagangan, sampai daya beli.

Mencermati situasi tersebut, Apindo meminta pemerintah memperkuat sokongan kepada para pelaku usaha guna menjaga momentum ekspor, utamanya lewat pengendalian cost-push inflation. Upaya itu dapat ditempuh melalui penjagaan stabilitas nilai tukar serta penggenjotan efisiensi biaya energi, logistik, kepatuhan regulasi, hingga suku bunga.

Menurut Shinta, langkah tersebut diperlukan guna menahan tekanan inflasi dari sisi produsen serta menuntut intervensi pemerintah yang konsisten dan terkoordinasi.

Di luar menekan biaya produksi, Apindo mendorong pemerintah memperluas pasar ekspor lewat penguatan sosialisasi serta fasilitasi perdagangan kepada negara-negara mitra nontradisional. 

Shinta menilai pasar India, China, serta Asean mempunyai permintaan yang relatif lebih tangguh apabila dibandingkan pasar tradisional seperti Amerika Serikat (AS), Uni Eropa, serta Jepang.

“Potensi pasar-pasar nontradisional ini, khususnya negara-negara rekan FTA/CEPA Indonesia, harus terus dipromosikan dan dimanfaatkan untuk menstabilkan dan mengoptimalkan kinerja ekspor nasional,” pungkasnya.

Terkini