Harga Properti Residensial di Bali Naik 1,02% pada Kuartal II/2026

Senin, 17 Agustus 2026 | 21:53:01 WIB
Desa Wisata Penglipuran, tampak ratusan wisatawan sedang berwisata di Desa Penglipuran [FOTO: NET].

JAKARTA - Bank Indonesia melaporkan bahwa harga properti residensial di pasar primer wilayah Provinsi Bali menunjukkan tren peningkatan pada kuartal I/2026. Hal tersebut dapat dicermati melalui pergerakan Indeks Harga Properti Residensial (IHPR) pada kuartal II/2026 yang tercatat tumbuh sebesar 1,02% secara tahunan (year-on-year / yoy), yang mana angka ini lebih tinggi jika dibandingkan dengan capaian pada periode kuartal I/2026 yang berada di angka 0,87% (yoy).

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali, Achris Sarwani, menerangkan bahwa kenaikan IHPR di wilayah Provinsi Bali utamanya didorong oleh peningkatan harga pada kategori properti tipe menengah dengan rentang luas bangunan antara 36 meter persegi hingga 70 meter persegi, serta kategori properti tipe besar dengan luas bangunan lebih dari 70 meter persegi, yang masing-masing mengalami kenaikan sebesar 1,52% (yoy) dan 0,82% (yoy).

"Pertumbuhan IHPR terutama dipicu oleh kenaikan harga bangunan yang dipengaruhi oleh peningkatan biaya faktor produksi. Sebanyak 81,3% responden menyatakan kenaikan harga bahan bangunan menjadi faktor utama yang mendorong kenaikan harga rumah, diikuti oleh peningkatan upah tenaga kerja yang disampaikan oleh 46,9% responden. Selain itu, tekanan harga juga berasal dari peningkatan biaya perizinan, kenaikan harga BBM, serta penambahan fasilitas dan fasilitas sosial perumahan." Jelas Achris, Senin (17/8/2026).

Di tengah berlangsungnya tren kenaikan harga properti tersebut, para pelaku pengembang properti di Bali menilai bahwa masih terdapat sejumlah faktor yang menjadi tantangan utama bagi kelancaran penjualan properti residensial primer. Beberapa hambatan krusial itu meliputi tingginya suku bunga Kredit Pemilikan Rumah (KPR), terbatasnya ketersediaan lahan, beban kewajiban pajak, serta besarnya ketentuan uang muka untuk pembelian rumah.

Ditinjau dari aspek pembiayaan pembangunan, hasil survei memperlihatkan bahwa sumber utama pendanaan bagi pembangunan properti residensial di Bali mayoritas masih bertumpu pada dana internal pengembang sendiri dengan porsi mencapai 56,6%. Posisi tersebut kemudian diikuti oleh pinjaman bank sebesar 35,3%, dana nasabah sebesar 5,9%, serta pinjaman dari Lembaga Keuangan (LK) nonbank sebesar 2,2%.

Sementara itu dari sisi konsumen, skema pembiayaan melalui fasilitas Kredit Pemilikan Rumah (KPR) masih memegang porsi dominan terbesar untuk aktivitas pembelian rumah, yakni sebesar 67,6% dari keseluruhan total pembelian rumah.

Memasuki periode mendatang, para responden memperkirakan bahwa harga properti residensial masih akan terus melanjutkan tren kenaikan pada triwulan III 2026. Lonjakan harga tersebut diprediksi bakal terjadi baik pada komponen harga tanah maupun harga bangunan rumah, termasuk pula berlaku bagi unit rumah yang dibeli melalui skema pembayaran tunai keras maupun lewat fasilitas KPR.

"Namun demikian, ekspektasi kenaikan harga tersebut relatif terbatas, sejalan dengan kehati-hatian responden dalam melakukan penyesuaian harga di tengah kondisi penjualan yang masih menghadapi berbagai tantangan." Kata Achris.

Terkini