BRIN Kembangkan Sistem Monitoring Air Tanah Tekan Risiko Karhutla

Selasa, 01 September 2026 | 00:27:32 WIB
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menginisiasi pengembangan sistem pemantauan air tanah atau Ground Water Level (GWL). (Foto: NET)

JAKARTA — Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menginisiasi pengembangan sistem pemantauan air tanah atau Ground Water Level (GWL) guna meminimalisasi ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama pada kawasan ekosistem gambut.

Kepala Pusat Riset Iklim dan Atmosfer Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Albertus Sulaiman melalui keterangannya di Jakarta, Selasa, mengemukakan bahwa teknologi tersebut difungsikan untuk mengawasi kondisi hidrologi air di wilayah gambut serta mendeteksi setiap pergeseran yang berpotensi menjadi pertanda kenaikan kerawanan bencana kebakaran sekaligus mengawasi emisi karbon yang bersumber dari area gambut.

"GWL dapat digunakan sebagai early warning system untuk mengetahui kapan lahan mulai berpotensi terbakar," katanya.

Albertus menekankan bahwa pengawasan air tanah memegang peran vital untuk menekan kerawanan, dikarenakan fluktuasi GWL sanggup menyuplai sinyal dini terkait probabilitas munculnya insiden kebakaran. 

Bilamana ketinggian permukaan air tanah menyusut mendekati atau melampaui ambang batas kritis tertentu, tanda-tanda kemunculan asap bisa teridentifikasi sesudahnya.

Ia menambahkan, data yang terkumpul dapat difungsikan sebagai landasan guna mencermati dinamika hidrologi gambut serta menopang proses perumusan kebijakan dalam aspek penataan lahan.

Menurut Albertus, temuan riset mutakhir BRIN mengindikasikan bahwa kawasan hutan rawa gambut mempunyai fungsi krusial dalam memodulasi curah hujan setempat, sehingga memperlihatkan signifikansinya terhadap ketahanan iklim.

Habitat ini mempunyai kapasitas menampung cadangan karbon dalam volume masif, merawat stabilitas tata air, serta menyumbang proses pembentukan hujan mandiri lewat mekanisme ekologis di dalamnya.

"Karena itu, menjaga gambut tetap basah dan sehat tidak hanya penting untuk mencegah kebakaran, tetapi juga untuk mempertahankan fungsi ekologisnya. Pengkajian hutan rawa gambut adalah pendekatan multi disiplin dan harus menjadi kerjasama berbagai pusat riset di BRIN," ujar Albertus.

Terpisah, Albertus menegaskan bahwa ketersediaan air menjadi variabel penentu utama dalam mengukur tingkat kerentanan lahan gambut terhadap ancaman api. Secara kodrati, gambut dibekali daya tampung air berkapasitas tinggi. Tatkala lahan tersebut mengalami dehidrasi atau kekeringan, probabilitas terjadinya kebakaran akan melonjak.

Ia memandang bahwa tata kelola lahan untuk kepentingan sektor budidaya kerap memicu pembangunan jaringan kanal. Pada areal perkebunan contohnya, saluran air difungsikan guna mengendalikan sirkulasi hidrologi.

Kendati demikian, jika manajemen tata air tersebut justru memicu penurunan permukaan air tanah secara drastis, gambut bakal bertransformasi menjadi semakin kering dan rentan dilalap api.

"Mengapa lahan gambut bisa terbakar? Karena lahan gambut sangat kering. Ketika kondisi gambut kering, air tidak lagi cukup untuk menjaga kelembapannya," ucap Albertus Sulaiman.

Terkini

Robert Moreno Resmi Jadi Pelatih Interim Timnas Korsel

Selasa, 01 September 2026 | 02:17:02 WIB

Lolos ke ACL 2, Persib Alihkan Fokus ke PSM dan Persija

Selasa, 01 September 2026 | 02:11:01 WIB

Barcelona Gilas Rayo Vallecano, Raphinha Kapten Teladan

Selasa, 01 September 2026 | 02:03:01 WIB