FINANSIALNEWS.COM — Klaim tersebut disampaikan Purbaya dalam acara 'Sarasehan 100 Ekonom Indonesia' di Jakarta, Kamis (3/9). Menurutnya, ketenangan ekonomi nasional tidak terlepas dari arahan Presiden Prabowo Subianto dalam merespons eskalasi konflik Iran dengan Amerika Serikat dan Israel.
"Dengan strategi yang pas walaupun harga minyak dunia sampai sempat US$ 100 per barel, kita kan tenang-tenang saja. Salah satu negara paling tenang di dunia, karena kebijakannya pas, karena arahan Presiden tepat," ujar Purbaya dalam sambutannya.
Kendali Fiskal di Tengah Tekanan Energi
Purbaya menjelaskan, rendahnya defisit menunjukkan pemerintah berhasil mengendalikan belanja tanpa mengorbankan kesinambungan fiskal. Pernyataan ini sekaligus menjawab pertanyaan mengenai pembengkakan belanja subsidi pada kuartal I-2026 dan strategi penyaluran subsidi ke depan.
"Artinya apa? Itu menunjukkan kita sudah mengendalikan belanja dan lain-lain sehingga kesinambungan fiskalnya tetap terjaga," kata bendahara negara itu.
Saat konflik Timur Tengah memanas, Purbaya mengaku mendapat instruksi langsung dari Presiden Prabowo untuk menghitung dampak ekonomi. Simulasi pun dilakukan dengan asumsi harga minyak mentah menyentuh US$ 100 per barel.
"Minggu berikutnya kita bilang harga akan dampaknya ke sini, sini, sini. (Prabowo bertanya) 'Kalau diamkan bisa dikendalikan?' Bisa. Saya akan kendalikan ini, ini, ini. 'Berapa defisitnya?' Di bawah 3 Pak, 2 poin sekian, 2,85 hitungan kita. Ya udah kerjakan," tuturnya menirukan percakapan dengan Presiden.
Subsidi Sebagai Penopang Daya Beli
Purbaya menegaskan, pemerintah secara selektif memangkas belanja yang tidak prioritas namun tetap membuka ruang bagi pengeluaran produktif. Di sisi lain, APBN masih meng-absorb kenaikan harga minyak dunia melalui instrumen subsidi.
Kebijakan ini dinilainya jauh dari kata boros. Justru, subsidi menjadi tameng ganda bagi perekonomian nasional.
"Pertama saya bisa menjaga daya beli masyarakat, kedua bisa mengendalikan inflasi," kata Purbaya.
Pernyataan ini menjadi sinyal bahwa pemerintah akan terus mengandalkan instrumen fiskal untuk meredam gejolak eksternal. Investor pelaku pasar perlu mencermati bahwa kebijakan subsidi yang masif berpotensi menahan laju inflasi, namun di sisi lain membatasi ruang fiskal untuk stimulus lainnya.