FINANSIALNEWS.COM — Manajemen emiten pelat merah ini menyebut tren positif itu buah dari restrukturisasi keuangan dan digitalisasi tata kelola pasca Danantara resmi memegang kendali. Momentum pemulihan posisi keuangan perseroan kini tampak konsisten.
Sepanjang paruh pertama 2026, KAEF membukukan penjualan neto Rp4,70 triliun, tumbuh 7,6% secara tahunan.
Sumber Laba dan Perbaikan Fundamental
Laba usaha KAEF melonjak 111,3% menjadi Rp152,21 miliar pada Januari–Juni 2026, dibandingkan Rp72,01 miliar pada semester I-2025. Angka ini menegaskan keberhasilan strategi perseroan menekan beban operasional.
Sebagai pembanding, sepanjang 2025 perseroan masih mencatat rugi bersih Rp334,9 miliar, dan rugi bersih Rp842 miliar pada 2024. Capaian laba semester I-2026 menjadi titik balik signifikan.
Direktur Utama KAEF Djagad Prakasa Dwialam mengungkapkan, salah satu kunci perbaikan adalah merampingkan strategi produksi.
"Kami memfokuskan kapasitas produksi pada produk unggulan bermargin tinggi yang memiliki kepastian serapan pasar yang solid," ujarnya dalam keterangan resmi, Kamis (3/9/2026).
Peran Danantara dan Koreksi atas Kegagalan Masa Lalu
Djagad menegaskan transformasi berjalan mulus tak terlepas dari dukungan penuh Danantara. Manajemen baru telah menganalisis akar masalah: investasi berlebih dan sistem pengawasan lemah pada periode sebelumnya.
"Dukungan Danantara menjadi katalis penting bagi Kimia Farma. Atas kesalahan masa lalu tersebut, kami telah melakukan tindakan korektif dan preventif menyeluruh yang saat ini sudah berjalan penuh," jelas Djagad.
Ia menambahkan, pesan COO Danantara Dony Oskaria menjadi pengingat agar kesalahan serupa tak terulang.
Digitalisasi Apotek dan Hilirisasi Bahan Baku
Di lini ritel, perseroan mengganti pencatatan manual di anak usaha Kimia Farma Apotek dengan sistem teknologi informasi terintegrasi end-to-end.
Sistem ini menghubungkan ribuan apotek secara real-time. Alur distribusi obat dan ketersediaan stok dapat dipantau presisi di setiap lapisan manajemen.
Di sisi produksi, KAEF meningkatkan porsi penggunaan bahan baku obat (BBO) dalam negeri. Langkah ini menekan ketergantungan impor sekaligus memperkuat rantai pasok nasional.
Prospek Jangka Panjang
Djagad menyatakan, perbaikan fundamental yang mulai terlihat hasilnya menjadi prasyarat penting ekspansi bisnis ke depan.
"Kimia Farma baru adalah entitas yang transparan, rasional dalam berekspansi, dan berfokus penuh pada fundamental operasional. Kami berkomitmen menjaga momentum positif ini," pungkasnya.
Manajemen menargetkan perseroan menjadi tulang punggung pelayanan kesehatan nasional yang tangguh secara finansial.