PalmCo

PalmCo Kelola Lebih 600 Ribu Hektare Sawit Nasional Berbasis Transformasi

PalmCo Kelola Lebih 600 Ribu Hektare Sawit Nasional Berbasis Transformasi
PalmCo Kelola Lebih 600 Ribu Hektare Sawit Nasional Berbasis Transformasi

JAKARTA - Pengelolaan ratusan ribu hektare perkebunan sawit nasional menuntut lebih dari sekadar skala usaha. Konsistensi eksekusi, pemanfaatan teknologi, serta keberpihakan pada keberlanjutan menjadi faktor penentu keberhasilan. 

Inilah yang tengah ditunjukkan PT Perkebunan Nusantara IV PalmCo, Sub Holding PTPN III (Persero), melalui transformasi berkelanjutan yang kini dinilai telah masuk ke tahap implementasi nyata.

Transformasi tersebut mendapat perhatian khusus dari Danantara Asset Management (DAM). Menurut DAM, langkah modernisasi yang dijalankan PalmCo tidak berhenti pada konsep, melainkan menjadi fondasi strategis dalam memperkuat kemandirian pangan, energi, serta kedaulatan ekonomi nasional.

Danantara Nilai Transformasi PalmCo Bukan Sekadar Jargon

Managing Director Business 2 Danantara Setyanto Hantoro menegaskan bahwa perubahan di sektor perkebunan harus diwujudkan dalam praktik nyata. Hal itu disampaikannya saat meninjau langsung rantai bisnis terintegrasi PalmCo.

“Transformasi di sektor perkebunan tidak cukup berhenti pada perencanaan. Yang kami lihat di sini adalah konsistensi dan keberanian mengeksekusi perubahan secara menyeluruh, dari hulu hingga hilir. Ini penting untuk mendukung kemandirian pangan dan energi sekaligus kedaulatan ekonomi,” ujar Setyanto.

Saat ini, PalmCo mengelola lebih dari 600.000 hektare perkebunan sawit nasional. Skala tersebut menjadikan PalmCo sebagai salah satu aktor utama dalam industri sawit nasional sekaligus pengelola aset strategis negara.

Pembibitan Sawit Unggul Perkuat Produktivitas Petani Rakyat

Kunjungan manajemen Danantara diawali dari sentra pembibitan Kebun Sei Pagar di Riau. Fasilitas ini merupakan satu dari tujuh sentra pembibitan sawit unggul bersertifikat yang dikelola PalmCo dan menjadi tulang punggung program peremajaan sawit rakyat sejak 2021.

Hingga kini, sekitar 2,56 juta bibit sawit unggul telah disalurkan kepada lebih dari 8.900 petani. Program ini diarahkan untuk mengatasi kesenjangan produktivitas antara kebun rakyat dan perkebunan perusahaan, yang selama ini menjadi persoalan struktural industri sawit nasional.

Dalam proses pembibitan, PalmCo mengombinasikan pendekatan teknologi dan mekanisasi. Sistem irigasi sprinkle diterapkan untuk efisiensi air, penggunaan drone sprayer membantu perawatan tanaman, serta penangkaran serangga penyerbuk elaidobius dikembangkan untuk meningkatkan hasil panen secara alami.

Digitalisasi dan Mekanisasi Jadi Pilar Transformasi Operasional

Digitalisasi menjadi salah satu pilar utama transformasi PalmCo. Sejumlah aplikasi internal seperti Digital Farming dan Agroview dimanfaatkan untuk pengendalian biaya, pemantauan kebun, serta peningkatan produktivitas secara presisi.

Di lapangan, digitalisasi tersebut diperkuat dengan mekanisasi peralatan panen dan perawatan kebun, seperti penggunaan grabber dan spreader. Pendekatan ini tidak hanya meningkatkan efisiensi kerja, tetapi juga membantu menjaga konsistensi hasil panen.

Pada sektor pengolahan, PalmCo menerapkan teknologi on-site seperti sistem Intank yang memungkinkan pemantauan stok minyak sawit mentah (CPO) secara real-time. Integrasi teknologi ini menciptakan transparansi dan akurasi dalam pengelolaan produksi.

Dampak dari sinergi digitalisasi dan mekanisasi terlihat jelas pada kinerja PTPN IV Regional III sepanjang 2025.

Kinerja Produksi Regional Menopang Hasil Konsolidasi Perusahaan

Sepanjang 2025, produksi tandan buah segar (TBS) inti PTPN IV Regional III tumbuh 5,4 persen menjadi 1,6 juta ton. Produktivitas tercatat mencapai 24,07 ton TBS per hektare per tahun.

Pabrik kelapa sawit di wilayah ini mencatatkan produksi CPO sebesar 575.000 ton dengan produktivitas 5,68 ton CPO per hektare per tahun. Sementara produksi minyak inti sawit (PKO) mencapai 115.000 ton, dengan rendemen CPO sebesar 23,59 persen, melampaui target perusahaan.

Capaian regional tersebut menjadi penopang kinerja konsolidasi PalmCo secara keseluruhan. Produktivitas CPO perusahaan tercatat 4,70 ton per hektare per tahun, tumbuh 9 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Dari sisi keuangan, PalmCo membukukan laba bersih Rp 6,19 triliun, atau sekitar 170 persen dari target Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP).

Transformasi Berbasis ESG Dorong Nilai Jangka Panjang

Setyanto menilai kinerja tersebut mencerminkan praktik terbaik transformasi bisnis perkebunan yang modern, efisien, dan berorientasi keberlanjutan.

“Apa yang kami lihat menunjukkan integrasi antara digitalisasi, mekanisasi, dan prinsip lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG). Ini bukan retorika, tetapi kerja nyata di lapangan,” katanya.

Ia menambahkan, PalmCo memiliki potensi besar menjadi contoh dalam mewujudkan visi Danantara sebagai sovereign wealth fund berkelas global, yang menekankan pengelolaan aset negara secara berkelanjutan untuk menciptakan nilai ekonomi jangka panjang.

Direktur Utama PTPN IV PalmCo Jatmiko Santosa menegaskan bahwa transformasi yang dijalankan merupakan strategi jangka panjang perusahaan. “Sejalan dengan arahan Danantara dan BP BUMN, kami bertumpu pada tiga pilar utama: peningkatan produktivitas, efisiensi biaya, dan keberlanjutan. Ketiganya kami jalankan secara simultan,” ujarnya.

Di tengah tantangan global sektor pangan dan energi, langkah PalmCo menunjukkan bahwa modernisasi BUMN perkebunan bukan hanya berdampak pada kinerja korporasi, tetapi juga memiliki arti strategis bagi ketahanan ekonomi nasional.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index