JAKARTA - Pemerintah Inggris resmi menghadirkan Climate Finance Accelerator (CFA) di Indonesia sebagai upaya memperkuat pembiayaan proyek rendah karbon sekaligus mendorong pencapaian target net zero emission pada 2060.
Program ini diharapkan menjadi jembatan antara pelaku usaha yang bergerak di sektor hijau dan investor internasional, sehingga proyek iklim di Indonesia dapat memperoleh pendanaan yang memadai dan berkelanjutan.
Duta Besar Inggris untuk Indonesia, Dominic Jermey, menjelaskan bahwa CFA telah berhasil mendukung lebih dari 200 bisnis di berbagai negara dan memfasilitasi kesepakatan investasi senilai lebih dari US$400 juta.
Dominic menilai kehadiran CFA di Indonesia tidak hanya memperkuat posisi Tanah Air sebagai mitra strategis Inggris dalam aksi iklim global, tetapi juga membuka peluang bagi perusahaan lokal untuk berpartisipasi dalam pasar investasi hijau yang kompetitif.
“Saya senang bahwa program yang sangat sukses ini kini hadir dan meluncurkan siklus pertamanya di Indonesia. Kami memahami bahwa bisnis-bisnis iklim yang tengah mencari pembiayaan dapat menghadapi tantangan untuk menjadi layak menerima investasi,” ungkap Dominic.
Dengan demikian, CFA tidak hanya sekadar platform pendanaan, tetapi juga sarana pendampingan intensif agar proyek siap memasuki pasar global.
Bagian dari Kemitraan Strategis Inggris–Indonesia
Peluncuran CFA di Indonesia merupakan bagian dari penguatan Kemitraan Strategis Inggris–Indonesia, yang sebelumnya disepakati Perdana Menteri Inggris Keir Starmer dan Presiden Prabowo Subianto di London.
Program ini diharapkan memberikan manfaat bagi pelaku proyek inovatif di Indonesia maupun investor internasional yang ingin berkontribusi pada transisi ekonomi hijau.
CFA menargetkan pelaku usaha yang membutuhkan investasi minimal US$3 juta, terutama di sektor energi, limbah, pertanian, transportasi, proses industri, serta kehutanan dan penggunaan lahan.
Program ini bertujuan menyeleksi 10 bisnis unggulan yang akan mendapatkan pendampingan intensif selama tiga hingga empat bulan, termasuk sesi kelompok dan mentoring individu oleh pakar finansial, teknis, serta isu kesetaraan dan inklusi.
Dengan skema ini, pelaku usaha tidak hanya memperoleh modal, tetapi juga panduan teknis dan strategis agar proyek mereka layak investasi, memiliki dampak iklim yang terukur, dan sesuai standar internasional. Hal ini penting untuk meningkatkan daya saing proyek lokal di pasar global.
Fokus Program: Transformasi Proyek Menjadi Layak Investasi
Presiden Direktur PwC Consulting Indonesia, Martijn Peeters, menekankan bahwa CFA bertujuan mengubah ambisi proyek menjadi proyek yang layak investasi sekaligus memiliki dampak iklim terukur. Ia menjelaskan bahwa program ini akan membimbing peserta dalam menyusun proposal yang menarik bagi investor internasional.
“Program ini bertujuan mengubah ambisi menjadi proyek yang layak investasi dan memberikan dampak iklim yang terukur. Tahun ini kami menargetkan 10 bisnis dari berbagai sektor terkait iklim,” ujar Martijn.
Pendampingan tidak hanya menyasar aspek finansial, tetapi juga aspek teknis, sosial, dan lingkungan, sehingga proyek yang dihasilkan mampu memberikan manfaat luas bagi masyarakat dan keberlanjutan lingkungan.
CFA juga diharapkan memperkuat pipeline proyek rendah karbon di Indonesia, sehingga investor dapat lebih mudah menilai kelayakan proyek secara menyeluruh. Program ini diharapkan mampu mendorong terciptanya proyek-proyek inovatif, scalable, dan berdampak signifikan dalam transisi menuju ekonomi hijau.
Skema Pendanaan dan Pendaftaran CFA
Pendaftaran CFA dibuka mulai 2 Februari hingga 9 Maret 2026, bagi pelaku usaha yang ingin mengajukan proposal proyek. Para peserta akan dibimbing oleh PwC sebagai mitra implementasi agar proposal investasi mereka menjadi menarik dan bernilai komersial.
Pendanaan program CFA berasal dari International Climate Finance (ICF) yang didanai pemerintah Inggris. Selain Indonesia, CFA juga telah diterapkan di negara lain seperti India, Malaysia, Afrika Selatan, dan Meksiko. Dengan demikian, program ini menjadi bagian dari strategi Inggris mendukung pencapaian target iklim global sesuai Paris Agreement.
Dampak CFA bagi Investasi Hijau di Indonesia
Keberadaan CFA di Indonesia diharapkan mempercepat pembiayaan proyek-proyek hijau, termasuk energi terbarukan, pengelolaan limbah, kehutanan berkelanjutan, transportasi rendah karbon, dan pertanian ramah lingkungan.
Program ini memberikan peluang bagi investor global menyalurkan dana ke proyek yang memiliki dampak lingkungan positif, sehingga membantu Indonesia mencapai target net zero emission 2060.
Dominic Jermey menegaskan bahwa CFA juga membantu mengatasi tantangan akses pembiayaan bagi bisnis iklim, sehingga proyek yang memiliki potensi besar untuk memberikan dampak positif terhadap lingkungan bisa lebih cepat siap menerima investasi.
Mentoring Intensif: Kunci Keberhasilan Proyek
Pendampingan CFA dilakukan melalui mentoring intensif, sesi kelompok, dan evaluasi individu oleh pakar internasional. Peserta dibekali pemahaman teknis, finansial, dan strategi pengelolaan proyek yang berkelanjutan. Selain itu, program juga menyoroti isu kesetaraan dan inklusi, sehingga proyek yang dihasilkan tidak hanya layak secara finansial tetapi juga memiliki nilai sosial dan lingkungan yang tinggi.
Model mentoring ini diharapkan menjadi standar baru bagi pengembangan proyek rendah karbon di Indonesia, sekaligus meningkatkan kepercayaan pasar global terhadap proyek-proyek hijau Indonesia.
Proyeksi Keberhasilan dan Harapan Pemerintah
Pelaksanaan CFA di Indonesia menjadi tolok ukur keberhasilan investasi hijau, sekaligus memperkuat sektor pembiayaan iklim di Tanah Air. Program ini diharapkan mampu menciptakan proyek-proyek rendah karbon yang scalable, sustainable, dan menarik bagi investor internasional.
CFA juga menjadi instrumen strategis untuk memperluas akses pelaku usaha Indonesia ke pasar global, memperkuat pipeline proyek, dan mendukung implementasi Nationally Determined Contribution (NDC) Indonesia.
Dengan keberhasilan ini, CFA diharapkan dapat menjadi model bagi negara lain dalam mendorong investasi ramah lingkungan secara berkelanjutan.
CFA Dorong Transisi Ekonomi Hijau di Indonesia
Dengan peluncuran CFA, Inggris dan Indonesia memperkuat kolaborasi strategis dalam aksi iklim global. Program ini diharapkan menjadi katalis bagi investasi hijau, mempercepat pengembangan proyek rendah karbon, dan mendorong pencapaian target net zero emission Indonesia pada 2060.
Melalui pendampingan intensif, pipeline proyek siap investasi, dan keterlibatan investor global, CFA memperkuat posisi Indonesia sebagai pemain penting dalam transisi ekonomi hijau dunia. Program ini tidak hanya mendukung inovasi teknologi hijau, tetapi juga memastikan keberlanjutan sosial dan lingkungan bagi masyarakat Indonesia.