JAKARTA - Transformasi sektor perkebunan Indonesia kini tidak lagi hanya berfokus pada ekspor komoditas mentah. Melalui inisiatif strategis, Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) mulai menggeser paradigma industri dengan mengoptimalkan peran Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Langkah ini diambil untuk memastikan bahwa setiap bagian dari komoditas perkebunan, termasuk limbahnya, dapat dikonversi menjadi produk bernilai ekonomi tinggi yang mampu bersaing di pasar global.
Komitmen ini ditegaskan oleh Kepala Divisi Kerjasama Kemasyarakatan dan UMKM BPDP, Helmi Muhansah. Beliau menyatakan bahwa fokus utama dari program pemberdayaan ini adalah untuk mengangkat citra positif sektor perkebunan di mata dunia. Melalui program hilirisasi dan pelatihan kewirausahaan, BPDP berupaya mengubah limbah kelapa sawit, kelapa, dan kakao menjadi produk kerajinan yang berkelanjutan dan memiliki nilai tambah yang signifikan.
Hilirisasi Limbah: Mengubah Sisa Perkebunan Menjadi Produk Bernilai Tambah
Salah satu pilar utama dalam gerakan ini adalah pemanfaatan limbah perkebunan menjadi produk kreatif. BPDP memandang bahwa meningkatnya kesadaran masyarakat global terhadap isu lingkungan merupakan peluang besar. Produk ramah lingkungan kini bukan sekadar tren, melainkan kebutuhan pasar yang harus dijawab oleh para pelaku UMKM tanah air.
"BPDP juga menargetkan peningkatan nilai penjualan produk UMKM perkebunan. Tujuannya, UMKM perkebunan bisa lebih mandiri dan nilai jual masing-masing produknya semakin tinggi," ungkap Helmi dalam keterangannya di Jakarta, Selasa. Dengan memanfaatkan sisa-sisa komoditas yang sebelumnya dianggap tidak bernilai, pelaku UMKM kini mampu menghasilkan barang-barang estetik yang memiliki daya jual jauh lebih tinggi dibandingkan bahan bakunya.
Upaya promosi produk ramah lingkungan ini tidak dibiarkan berjalan sendiri oleh para pengrajin. BPDP secara masif memberikan dukungan melalui berbagai platform promosi agar produk-produk berbasis limbah ini mendapatkan pengakuan di skala nasional maupun internasional.
Panggung INACRAFT 2026: Jembatan UMKM Menuju Pasar Global
Wujud nyata dari dukungan promosi tersebut terlihat pada partisipasi BPDP dalam ajang pameran kerajinan internasional bergengsi, INACRAFT ke-26, yang berlangsung pada 4 – 8 Februari 2026 di Jakarta International Convention Center (JICC). Dengan tema "Exploring and Celebrating Womenpreneurs in Craft", pameran ini menjadi etalase bagi inovasi-inovasi terbaru dari mitra binaan BPDP.
Salah satu yang menarik perhatian adalah Cambiacraft Indonesia. UMKM ini berhasil mendemonstrasikan bagaimana lidi sawit bisa disulap menjadi produk kriya tingkat tinggi seperti lampu hias, sandal, hingga instrumen alat musik dan lukisan dekoratif. Selain itu, ada pula Smart Batik Indonesia dan Jayanti Batik yang memperkenalkan inovasi batik berkelanjutan. Mereka menggunakan malam atau lilin yang diproses dari minyak sawit, sebuah alternatif ramah lingkungan yang menggantikan bahan kimia konvensional.
Partisipasi dalam INACRAFT bukan sekadar ajang pameran, melainkan misi diplomatik ekonomi untuk memperkenalkan tiga komoditas utama perkebunan: sawit, kelapa, dan kakao. Mengutip pesan Presiden, Helmi menyebutkan bahwa kelapa sawit adalah miracle crop. Oleh karena itu, pengembangan UMKM berbasis perkebunan menjadi krusial agar masyarakat dapat menikmati hasil olahan produknya secara langsung dan inklusif.
Pemberdayaan Perempuan dan Inovasi Kriya Berkelanjutan
Aspek lain yang menjadi perhatian serius BPDP adalah penguatan peran perempuan dalam rantai nilai perkebunan. Helmi menekankan bahwa pemberdayaan perempuan, khususnya para pengrajin di sektor kriya, memiliki dampak ganda. Kegiatan produktif seperti membatik dengan bahan turunan sawit tidak hanya mendorong lahirnya inovasi produk yang estetik, tetapi juga menjadi mesin penggerak ekonomi keluarga.
"Membatik menjadi kegiatan positif yang produktif dan berpotensi memberikan penghasilan tambahan sebagai bentuk pemberdayaan bagi perempuan," jelas Helmi. Dengan memberikan ruang bagi perempuan untuk berinovasi, sektor perkebunan tidak hanya menghasilkan keuntungan materi, tetapi juga kemajuan sosial di tingkat akar rumput.
Dampak Nyata dan Akses Langsung ke Pembeli Internasional
Manfaat dari fasilitas yang diberikan BPDP ini dirasakan langsung oleh para pelaku usaha. Direktur Jayanti Batik, Sri Nasifah, memberikan apresiasi tinggi terhadap keterlibatan mereka di INACRAFT. Menurutnya, dukungan dari BPDP memberikan peluang langka bagi UMKM untuk berinteraksi langsung dengan pembeli dari mancanegara.
"Melalui partisipasi pada INACRAFT, UMKM perkebunan juga mendapatkan akses langsung ke pembeli internasional dan nasional sehingga dapat memperluas jangkauan pasar," pungkas Sri. Akses pasar yang lebih luas ini menjadi kunci utama bagi UMKM untuk naik kelas, dari skala lokal menuju pemain global yang diperhitungkan.
Dengan sinergi antara kebijakan hilirisasi, promosi yang agresif, dan fokus pada produk berkelanjutan, BPDP optimis bahwa produk UMKM perkebunan Indonesia akan terus mendominasi pasar kerajinan dunia di masa depan.