Profil

Kisah Theresa Kusumadjaja: Produser Indonesia Pertama Tembus Nominasi Grammy Awards

Kisah Theresa Kusumadjaja: Produser Indonesia Pertama Tembus Nominasi Grammy Awards
Kisah Theresa Kusumadjaja: Produser Indonesia Pertama Tembus Nominasi Grammy Awards

JAKARTA - Panggung musik paling bergengsi di dunia, Grammy Awards ke-68, yang baru saja dihelat pada 1 Februari 2026 di Crypto.com Arena, Los Angeles, menyisakan kebanggaan luar biasa bagi bangsa Indonesia. Nama Theresa Kusumadjaja mendadak menjadi perbincangan hangat setelah dirinya resmi mencetak sejarah sebagai perempuan Indonesia pertama yang berhasil menembus nominasi ajang prestisius tersebut.

Capaian ini menjadi pembuktian bahwa kualitas talenta Indonesia tidak hanya diakui saat berada di depan mikrofon, tetapi juga sangat diperhitungkan di balik layar. Sebagai produser video musik, Theresa membawa standar visual kelas dunia yang mampu bersaing dengan nama-nama besar di industri hiburan global. Kehadirannya di daftar nominasi Grammy adalah sebuah tonggak sejarah yang menginspirasi banyak kreator muda di tanah air.

Keberanian Banting Setir dari Ilmu Sains ke Industri Kreatif

Kisah sukses Theresa dimulai dari sebuah keberanian besar untuk mengejar passion. Lahir sebagai warga negara Indonesia, Theresa telah merantau ke Amerika Serikat sejak usia dini. Ia mengikuti sang ibu pindah ke AS pada usia 9 tahun dan kini menetap di New York. Menariknya, jalur akademik yang ia tempuh pada awalnya sangat bertolak belakang dengan industri musik yang kini membesarkan namanya.

Theresa memiliki latar belakang pendidikan formal di bidang biokimia dan statistik. Namun, ketertarikan yang besar pada dunia visual dan produksi kreatif membuatnya tidak ragu untuk melakukan lompatan karier yang drastis. Ia memutuskan untuk meninggalkan dunia laboratorium dan data sains demi merintis karier sebagai produser foto serta video di New York. Melalui dedikasi yang tak goyah, ia perlahan membangun reputasi sebagai produser dengan visi yang tajam hingga akhirnya mampu menembus lingkaran industri kreatif paling kompetitif di dunia.

Rekam Jejak Kolaborasi dengan Bintang Papan Atas Global

Sebelum namanya menggema di panggung Grammy, Theresa Kusumadjaja sebenarnya sudah memiliki jam terbang yang sangat tinggi di industri hiburan Amerika Serikat. Ia dikenal sebagai sosok produser berpengalaman yang memiliki portofolio luar biasa. Sejumlah musisi kelas dunia seperti A$AP Rocky hingga Frank Ocean tercatat pernah bekerja sama dengannya dalam berbagai proyek kreatif.

Keahliannya dalam mengelola produksi visual juga menarik minat merek-merek raksasa internasional. Jenama kenamaan seperti Apple, Nike, dan Adidas telah memercayakan konsep visual mereka di tangan Theresa. Tak hanya berhenti di bidang produksi, saat ini Theresa juga melebarkan sayapnya dengan aktif berperan sebagai manajer bagi sejumlah artis di Amerika Serikat, yang semakin memperkuat pengaruhnya di industri hiburan global.

Di Balik Kesuksesan Video Musik "So Be It"

Puncak prestasi Theresa terjadi lewat kolaborasinya dengan duo hip-hop legendaris, Clipse, yang beranggotakan Pusha T dan Malice. Dalam penggarapan video musik berjudul "So Be It", Theresa memegang peran krusial sebagai produser video dan bekerja sama dengan sutradara Hannan Hussain. Sebagai produser, ia memegang tanggung jawab penuh mulai dari perancangan konsep awal hingga tahap eksekusi visual akhir yang tayang perdana pada 17 Juli 2025.

Berkat karya yang apik tersebut, Theresa berhasil masuk dalam nominasi kategori Best Music Video di Grammy Awards ke-68. Di kategori yang sangat kompetitif ini, ia bersanding dengan karya-karya populer lainnya seperti "Manchild" dari Sabrina Carpenter, "Love" milik OK Go, dan "Young Lion" karya Sade. Meskipun pada akhirnya penghargaan tersebut jatuh kepada Doechii lewat video musik "Anxiety", pencapaian Theresa tetap menjadi prestasi yang monumental bagi Indonesia.

Dedikasi Mengharukan untuk Sang Ibu dan Pesan Sosial

Di balik kesuksesan yang ia raih, Theresa tetaplah sosok yang rendah hati dan tidak melupakan akar perjuangannya. Sesaat setelah pengumuman nominasi, ia membagikan rasa syukurnya melalui akun Instagram pribadinya, @tkusumadjaja. Dalam unggahan tersebut, ia mendedikasikan pencapaian bersejarah ini secara khusus untuk ibunya yang telah menemaninya berjuang sejak masa kecil di Amerika Serikat.

“Mama, putrimu kini menjadi perempuan Indonesia pertama yang masuk nominasi Grammy!” tulisnya dalam sebuah momen penuh haru.

Selain merayakan prestasi, Theresa juga menggunakan sorotan yang ia terima untuk menyuarakan isu kemanusiaan. Ia menunjukkan kepeduliannya melalui dukungan terhadap gerakan ICE OUT, sebuah aksi solidaritas yang mengkritisi kebijakan lembaga imigrasi Amerika Serikat (U.S. Immigration and Customs Enforcement). Hal ini menunjukkan bahwa Theresa adalah sosok seniman yang juga memiliki kepekaan sosial yang tinggi.

Memperluas Representasi Indonesia di Panggung Grammy

Sebelum Theresa, nama Joey Alexander telah lebih dulu mengharumkan Indonesia lewat nominasi di bidang musik jazz pada tahun 2016 dan 2017. Keberhasilan Theresa sebagai produser video musik kini memberikan warna baru dalam representasi Indonesia di ajang tersebut. Ia membuktikan bahwa pengaruh kreatif dari kreator di balik layar memiliki peran yang sama besarnya dalam membentuk tren budaya populer dunia.

Perjalanan Theresa Kusumadjaja dari seorang mahasiswa biokimia hingga menjadi nomine Grammy adalah pengingat bagi setiap anak muda Indonesia bahwa mimpi sebesar apa pun bisa dicapai dengan kerja keras dan keberanian untuk mencoba hal baru. Selamat atas pencapaian luar biasa ini, Theresa!

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index