JAKARTA - Enzo Fernandez tidak mampu menyembunyikan rasa kecewanya setelah Timnas Argentina gagal merengkuh gelar juara Piala Dunia 2026. Tim Tango dipastikan gagal mempertahankan trofi juara yang mereka rengkuh empat tahun silam di Qatar usai takluk di tangan Spanyol.
Duel pemungkas Piala Dunia 2026 antara Spanyol dan Argentina di Stadion New York New Jersey pada Senin (21/7/2026) dini hari WIB tuntas dengan skor tipis 1-0. Gol tunggal dari Ferran Torres sekaligus memupus impian Albiceleste untuk mencatatkan rekor back to back juara pada tahun ini.
Di sepanjang laga, Enzo Fernandez diganjar dua kartu kuning akibat aksi protes kepada pengadil lapangan serta tekel keras terhadap Pau Cubarsi. Gelandang andalan asal klub Chelsea tersebut sempat kesulitan menerima kartu merah yang diterimanya, namun ia memilih untuk melupakan kekecewaan tersebut dan mengalihkan fokus pada agenda ke depan.
"Seiring berjalannya waktu, Anda menyadari ada sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar hasil pertandingan," tutur Enzo Fernandez sebagaimana dikutip dari akun Instagram resmi klub.
Komitmen Abadi untuk Timnas Argentina Walhasil, Enzo Fernandez tetap menyampaikan rasa bangganya terhadap perjalanan Albiceleste meskipun hasil akhir belum berpihak kepada mereka. Bersama rekan-rekan setimnya, seluruh skuad Argentina diklaim telah berjuang habis-habisan dengan membawa kehormatan bangsa.
"Selama bertahun-tahun, kelompok ini telah mewakili tim dengan cara terbaik. Ini mengajarkan bahwa berkompetisi bukan hanya tentang menang."
"Ini tentang memberikan yang terbaik untuk seragam tim dan tidak pernah menyerah," jelasnya.
"Merupakan suatu kehormatan untuk menjadi bagian dari kelompok yang selalu siap sedia, berkompetisi di level tertinggi, dan membela nama baik tim ini dengan bangga, rendah hati, dan penuh komitmen." Enzo turut menegaskan komitmen jangka panjangnya bagi Argentina terlepas dari hasil minor di partai final. "Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada semua penggemar Argentina. Terima kasih karena selalu ada, mendukung kami di setiap pertandingan, atas kasih sayang, dukungan tanpa syarat, dan membuat kami merasa seperti di rumah di mana pun di dunia."
"Mengenakan seragam negara saya adalah kehormatan terbesar dalam karier saya, dan saya akan terus memberikan yang terbaik setiap kali saya mendapat kesempatan untuk membela negara ini," tutupnya.
Memicu Insiden Ketegangan di Pengujung Laga Kendati bukan pemicu utama secara langsung, kartu merah yang diterima Enzo Fernandez menjadi awal mula naiknya tensi panas menjelang pertandingan bubar. Sejumlah pilar Argentina seperti Leandro Paredes dan Nahuel Molina kedapatan melakukan tindakan tidak terpuji selepas peluit panjang dibunyikan. Keduanya terlibat bentrok fisik dengan Gavi, Eric Garcia, hingga Rodri yang pada akhirnya memaksa pihak FIFA turun tangan untuk menyelidiki insiden tersebut.
Eks penyerang Aston Villa, Gabriel Agbonlahor, secara tegas mendesak agar Paredes dijatuhi hukuman berat akibat tindakan yang dinilainya sudah mengarah pada penganiayaan. "Jika Anda menonton ulang rekamannya, Paredes menyerang Garcia, dia mencekik lehernya. Cara leher Garcia tersentak, itu adalah penyerangan, sesederhana itu," kata Agbonlahor seperti dilansir talkSPORT. "Jika Anda ingin merasa aman di lapangan, hukumannya harus sangat berat sehingga tidak ada yang pernah melakukan itu lagi."
Agbonlahor turut mengecam keras perlakuan kasar yang ditujukan kepada Gavi mengingat usianya yang masih sangat muda. "Cara dia memperlakukan Gavi, seorang anak berusia 21 tahun, dengan kasar, dan Anda melemparnya ke sana kemari di lapangan, itu adalah anak atau saudara seseorang."
"Memalukan. Seandainya aku bisa, aku akan melarangnya ikut serta dalam seluruh turnamen berikutnya. Pengecut," ungkapnya geram.