JAKARTA - Pernahkah Anda mendapati seseorang mengeklaim bahwa dirinya berada dalam kondisi baik-baik saja, sementara gestur fisiknya justru memancarkan gestur yang bertolak belakang?
Contohnya, ia melontarkan senyuman ketika berdiskusi, namun area rahangnya tampak mengencang atau ia terus-menerus menghindari kontak visual. Kondisi semacam itu kerap memicu kebingungan bagi kita dalam menangkap substansi maksud lawan bicara.
Di dalam ranah interaksi keseharian, lisan memang bukan satu-satunya instrumen penyampai pesan. Ekspresi pada muka, gerak-gerik fisik, postur tubuh, hingga jarak fisik ketika berdialog turut menyumbangkan sinyal spesifik mengenai situasi psikologis seseorang. Kendati demikian, bahasa tubuh tidak selamanya bisa diterjemahkan secara harfiah dan sederhana.
Berdasarkan paparan Verywell Mind, pakar sains perilaku Dr. Abbie Marono menerangkan bahwa seseorang sanggup memancarkan isyarat yang berlainan akibat dilanda konflik emosi, berupaya meredam perasaan asli, ataupun berhasrat menampilkan impresi tertentu di hadapan publik.
Oleh sebab itu, pembacaan bahasa tubuh mutlak dijalankan dengan mencermati beberapa indikator secara simultan, bukan sekadar bertumpu pada satu gerakan tunggal.
Tanda bahasa tubuh tak sama dengan ucapan
Tersenyum tetapi terlihat tegang Senyum umumnya dikaitkan dengan perasaan senang atau nyaman. Namun, ekspresi wajah seseorang tidak selalu menggambarkan perasaannya secara utuh. Pakar bahasa tubuh dan komunikasi Dr. Lillian Glass menjelaskan, senyum dengan bibir tertutup disertai rahang yang mengatup dapat menjadi salah satu tanda bahwa seseorang sebenarnya tidak merasa bahagia atau nyaman.
Kendati demikian, satu ekspresi wajah tidak cukup untuk memastikan perasaan seseorang. Kondisi dan konteks percakapan tetap perlu diperhatikan.
Melakukan kontak mata tetapi tampak tidak nyaman Kontak mata sering dianggap sebagai tanda seseorang tertarik atau memperhatikan lawan bicara. Sebaliknya, menghindari kontak mata dapat dipahami sebagai tanda tidak nyaman atau tidak tertarik. Namun, maknanya tidak selalu demikian.
Seseorang bisa saja menghindari tatapan karena merasa malu, gugup, atau berada dalam situasi yang membuatnya tidak nyaman. Bahkan, budaya tertentu memiliki kebiasaan berbeda dalam menggunakan kontak mata ketika berbicara dengan orang lain.
Menurut Marono, sinyal nonverbal sebaiknya tidak ditafsirkan secara terpisah dari konteks verbal maupun karakter individu. Artinya, jangan langsung menyimpulkan seseorang tidak tertarik hanya karena ia beberapa kali mengalihkan pandangan.
Mengangguk tetapi sebenarnya tidak setuju Menganggukkan kepala biasanya dianggap sebagai tanda persetujuan atau bahwa seseorang memahami pembicaraan. Namun, gerakan tersebut juga dapat muncul ketika seseorang sedang mengikuti atau mencoba memahami sudut pandang lawan bicara.
Akibatnya, seseorang mungkin terlihat mengangguk selama percakapan, tetapi kemudian mengatakan bahwa dirinya tidak setuju dengan pendapat yang disampaikan. Perbedaan antara gerakan dan ucapan inilah yang dapat menimbulkan mixed signals atau sinyal campuran. Jika merasa bingung, cara yang lebih baik adalah menanyakan langsung maksudnya daripada membuat kesimpulan sendiri.
Tubuh terlihat terbuka, tetapi kaki mengarah ke pintu Postur tubuh juga dapat memberikan petunjuk mengenai kenyamanan seseorang dalam sebuah percakapan. Postur terbuka, misalnya tidak menyilangkan tangan atau kaki, umumnya dapat menunjukkan rasa nyaman dan keterbukaan. Sebaliknya, tubuh yang menjauh atau tertutup dapat mengindikasikan ketidaknyamanan. Glass memberikan contoh ketika seseorang sedang berkencan.
Meski percakapan tampak berjalan baik, orang tersebut justru bersandar menjauh dan posisi kakinya mengarah ke pintu keluar. Menurutnya, arah tubuh dan kaki dapat menjadi salah satu petunjuk bahwa seseorang mungkin ingin mengakhiri interaksi. Namun lagi-lagi, tanda tersebut tidak dapat berdiri sendiri. Bisa saja seseorang mengubah posisi tubuh karena merasa pegal atau sedang mencari posisi yang lebih nyaman.
Menyentuh dengan cara yang sulit dipahami Sentuhan juga dapat menyampaikan pesan yang berbeda-beda bergantung pada hubungan dan situasinya. Dalam hubungan pertemanan, sentuhan pada bahu atau lengan dapat menjadi bentuk keramahan.
Sementara dalam konteks romantis, sentuhan yang lebih lembut atau berlangsung lebih lama dapat dipersepsikan berbeda. Ada pula sentuhan yang digunakan untuk menunjukkan dominasi, misalnya menggenggam lengan seseorang ketika sedang berbicara. Karena maknanya sangat bergantung pada konteks, sentuhan juga mudah disalahartikan.
Jika seseorang merasa tidak nyaman dengan sentuhan tertentu, menyampaikan batasan secara langsung merupakan cara yang lebih jelas dibandingkan mencoba menebak maksud dari bahasa tubuh tersebut.