Tertekan Pelemahan Rupiah, Kalbe (KLBF) Siap Kerek Harga Produk

Tertekan Pelemahan Rupiah, Kalbe (KLBF) Siap Kerek Harga Produk
Acara peluncuran pabrik CT Scan milik PT Kalbe Farma Tbk. yang berlangsung di Bogor, Senin (2/6/2025) [FOTO: NET].

JAKARTA – Sebagai dampak dari depresiasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, emiten sektor kesehatan PT Kalbe Farma Tbk. (KLBF) kembali membuka peluang penyesuaian harga jual produk guna meredam tekanan terhadap margin perseroan.

Direktur Kalbe Farma, Kartika Setiabudy, menjelaskan bahwa sepanjang semester I/2026, hantaman besar yang dirasakan oleh Kalbe utamanya bersumber dari pelemahan marjin laba kotor (gross profit margin) akibat mayoritas bahan baku masih harus didatangkan lewat jalur impor.

Sebagaimana diketahui, portofolio produk KLBF menaungi berbagai merek obat populer seperti Komix, Promag, Entrostop, Procold, Mixagrip, hingga lini suplemen nutrisi.

”Ke depan memang pelemahan kurs dan kenaikan harga bahan baku masih menjadi suatu kendala untuk perusahaan. Kami akan berupaya untuk baik secara jangka pendek atau jangka menengah akan melakukan strategi kenaikan harga dan juga akan melakukan manajemen portofolio supaya bisa mengoptimalkan kontribusi produk yang memiliki margin lebih baik,” katanya dalam Public Expose Live 2026, Jumat (11/9/2026).

Kartika memaparkan, langkah taktis mengalihkan beban tekanan kepada konsumen lewat instrumen kenaikan harga sejatinya telah dijalankan perseroan sepanjang tahun berjalan secara selektif khusus untuk segmen produk konsumer tertentu.

Kendati demikian, ke depan Kartika menegaskan bahwa kebijakan penyesuaian harga tersebut bakal dieksekusi perseroan secara amat berhati-hati. Pendekatan ini ditempuh mengingat tingkat sensitivitas daya beli masyarakat yang tinggi terhadap perubahan harga.

”Untuk kenaikan harga itu kami lakukan dengan sangat hati-hati, dengan sangat selektif mengingat kondisi ekonomi yang saat ini juga belum kondusif, sehingga kenaikan harga tentunya kami lakukan untuk beberapa produk konsumen saja,” tambahnya.

Menilik lembaran laporan keuangan perseroan, KLBF sejatinya mampu mengantongi angka penjualan hingga tembus Rp19,47 triliun dalam kurun waktu 6 bulan pertama 2026. Realisasi tersebut merefleksikan pertumbuhan sebesar 14,04% secara tahunan (year-on-year/YoY) jika dikomparasikan dengan perolehan Rp17,07 triliun pada interval waktu yang serupa tahun 2025.

Hanya saja, membengkaknya pos beban penjualan menjadi Rp3,85 triliun pada rentang Januari—Juni 2026 dari sebelumnya Rp3,58 triliun pada periode yang sama tahun lalu, menyebabkan perolehan laba bersih Kalbe mengalami penyusutan.

Besaran laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk alias laba bersih Kalbe merosot dari posisi Rp1,97 triliun pada paruh pertama 2025 menjadi Rp1,91 triliun pada semester I-2026.

Menyinggung proyeksi performa bisnis sepanjang 2026, Kartika memprediksi bahwa hantaman tekanan terhadap margin masih akan terus membayangi. Walaupun demikian, pihaknya memilih bersikap konservatif dan enggan membeberkan target kinerja spesifik yang menjadi panduan perseroan tahun ini.

”Untuk tahun ini, kami melihat bahwa tekanan terhadap margin akan tetap ada karena memang secara fundamental kondisi rupiah akhir-akhir ini sudah ada penguatan, tapi karena ada dampak dari inventory juga mungkin sepanjang tahun ini, kami belum melihat adanya perbaikan margin secara signifikan,” tegasnya.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index