FINANSIALNEWS.COM — Anggota DPR Amerika Serikat dari Partai Republik, Thomas Massie, resmi mengajukan pasal pemakzulan terhadap Menteri Pertahanan Pete Hegseth pada Selasa (15/9/2026). Massie menuduh Hegseth menyalahgunakan jabatan karena menjalankan perintah permusuhan terhadap Iran tanpa persetujuan Kongres. Resolusi berstatus privileged itu memaksa DPR membahasnya dalam dua hari persidangan.
Resolusi pemakzulan yang diajukan Massie menyasar inti kebijakan luar negeri pemerintahan Presiden Donald Trump. Politikus Republik dari Kentucky itu menilai Hegseth melanggar kewenangan konstitusional Kongres dengan menggelar operasi militer terhadap Iran tanpa otorisasi legislatif.
Meski peluang pengesahan tipis, status privileged yang disematkan Massie membuat langkahnya tidak bisa diabaikan begitu saja. DPR wajib menggelar pembahasan dalam waktu dua hari persidangan sejak resolusi diajukan.
Perintah Militer Tanpa Persetujuan Kongres
Massie menuduh Hegseth menyalahgunakan jabatan karena menjalankan perintah untuk melakukan permusuhan terhadap Iran tanpa persetujuan Kongres. Perang tersebut dimulai melalui serangan pasukan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari.
Anggota Kongres, terutama dari Partai Demokrat, telah berulang kali mendukung resolusi yang mendesak Trump mengakhiri konflik kecuali memperoleh persetujuan Kongres. Namun berbagai resolusi itu belum berhasil menghentikan pertempuran.
Pentagon membantah tudingan tersebut. Juru bicara Pentagon Kingsley Wilson menyatakan lembaganya tetap solid mendukung kepemimpinan Hegseth.
"Seluruh Departemen bersatu di belakang visi Menteri dan akan terus bekerja untuk menempatkan para prajurit serta Amerika sebagai prioritas utama," kata Wilson, dilansir Reuters.
Siapa Thomas Massie dan Mengapa Ia Melawan
Massie dikenal sebagai salah satu pengkritik vokal perang terhadap Iran dan bantuan AS kepada Israel. Ia tidak mencalonkan diri kembali dalam pemilu paruh waktu mendatang.
Pada Mei lalu, Massie kalah dalam pemilihan pendahuluan dari kandidat yang didukung Trump. Ia dikalahkan Ed Gallrein, mantan anggota Navy SEAL yang memperoleh dukungan presiden dan sokongan dana besar dari kelompok-kelompok pro-Israel.
Hubungan Massie dengan Trump memburuk setelah ia memimpin upaya membuka dokumen Departemen Kehakiman yang berkaitan dengan mendiang pelaku kejahatan seksual Jeffrey Epstein. Langkah itu membuat Massie berseberangan langsung dengan presiden.
Perang Iran dan Tekanan Terhadap Pemilih
Sejumlah jajak pendapat menunjukkan perang yang dimulai 28 Februari tidak populer di kalangan pemilih Amerika. Konflik itu mengganggu pengiriman minyak dan mendorong harga bahan bakar mendekati rekor tertinggi, menambah tekanan terhadap keuangan rumah tangga.
Popularitas Trump menurun sejak melancarkan perang tersebut. Survei Reuters/Ipsos yang dirilis Senin menunjukkan Partai Demokrat unggul atas Partai Republik dalam preferensi pemilih untuk pemilihan anggota Kongres, dengan perbandingan 44% berbanding 37%.
Partai Republik yang dipimpin Trump menghadapi tantangan berat untuk mempertahankan kendali atas DPR dan Senat ketika pemilih memberikan suara pada 3 November.
Dua Hari yang Menyulitkan Fraksi Republik
Langkah Massie berpotensi menyulitkan sejumlah anggota Partai Republik yang tengah bersiap meninggalkan Washington sebelum pemilihan paruh waktu November. Mereka dipaksa mengambil posisi terbuka soal perang yang tidak populer di mata pemilih.
Resolusi pemakzulan itu sendiri diperkirakan sulit disahkan mengingat mayoritas DPR masih dikuasai Republik. Namun pemungutan suara yang dipaksa Massie akan meninggalkan jejak politik permanen menjelang pemilu.