Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Dinilai Lebih Dinikmati Kalangan Menengah Atas

Kamis, 06 Agustus 2026 | 23:14:02 WIB
Direktur Big Data INDEF Eko Listiyanto. (Foto: NET)

JAKARTA – Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) memandang mutu ekspansi finansial Nusantara masih menyisakan problem kesenjangan. Walaupun perekonomian menanjak 5,29% pada kuartal II 2026, faedah kemajuan dipandang lebih banyak dirasakan golongan warga berpenghasilan tinggi. 

Direktur Big Data INDEF Eko Listiyanto menyatakan, kondisi tersebut tampak dari meningkatnya indeks ketimpangan atau rasio gini pada Maret 2026. 

Mengacu pada data Badan Pusat Statistik (BPS), Rasio Gini nasional bertambah dari 0,363 pada September 2025 menjadi 0,368 pada Maret 2026. Pada kawasan perkotaan, rasio gini meningkat dari 0,383 menjadi 0,387, sementara di perdesaan menanjak tipis dari 0,295 menjadi 0,296.

"Kami lihat manfaat dari pertumbuhan ekonomi itu juga semakin mengarah ke masyarakat lapisan atas. Gini ratio secara rata-rata sedikit meningkat dari 0,363 menjadi 0,368," ujar Eko dalam Diskusi Publik INDEF, Kamis (6/8/2026).

Menurutnya, lonjakan ketimpangan di tengah ekspansi finansial menjadi pekerjaan rumah bagi aparatur negara. Pasalnya, kemajuan yang lebih tinggi semestinya turut disertai pemerataan faedah bagi segenap lapisan publik. 

Eko berpendapat, pemulihan mutu ekspansi ekonomi mesti diawali lewat penguatan daya beli warga secara organik, bukan sekadar lewat stimulus berjangka pendek. 

Salah satu metodenya ialah dengan merumuskan lebih banyak bursa kerja formal. Menurutnya, pekerjaan formal lazimnya menawarkan penghasilan yang lebih pantas serta proteksi ketenagakerjaan yang lebih baik ketimbang sektor informal.

"Penguatan daya beli yang organik dilakukan dengan menciptakan lapangan kerja formal. Saat ini porsi pekerja informal kami masih sangat dominan, hampir 60%," ujarnya.

Di samping itu, pihak pemerintah pun wajib mengakselerasi program reskilling dan upskilling, khususnya bagi buruh pada sektor niaga yang sedang menghadapi transisi digital. 

Ia memandang eskalasi kecakapan tenaga kerja menjadi krusial supaya pelaku usaha dan buruh konvensional sanggup beradaptasi bersama ekosistem perdagangan digital, sehingga ekspansi sektor niaga dapat diiringi peningkatan penyerapan tenaga kerja. 

Sebaliknya, Eko turut menyoroti merosotnya mutu kemiskinan di perdesaan. Menurutnya, pendekatan proteksi sosial di desa perlu dimodifikasi agar tidak semata-mata berpusat pada sokongan tunai, melainkan pula merangsang eskalasi pendapatan warga dalam kurun panjang.

"Harus ada intervensi yang berorientasi pada peningkatan pendapatan jangka panjang. Karena kami melihat problem di desa justru semakin rumit, ketika pertumbuhan ekonomi naik tetapi kedalaman dan keparahan kemiskinan juga memburuk," pungkasnya.

Terkini