Rupiah Melemah 0,38% ke Rp17.763 per Dolar AS Pagi Ini

Kamis, 17 September 2026 | 09:49:00 WIB

FINANSIALNEWS.COM — Nilai tukar rupiah spot melemah 0,38% ke level Rp17.763 per dolar AS pada perdagangan Kamis (17/9/2026) pagi, dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp17.696. Pelemahan terjadi di tengah tekanan yang juga menimpa mayoritas mata uang Asia terhadap dolar AS.

Tekanan terhadap rupiah sejalan dengan pergerakan mata uang kawasan. Hampir seluruh mata uang Asia melemah terhadap dolar AS pada perdagangan pagi.

Ringgit Malaysia Pimpin Pelemahan Asia

Ringgit Malaysia mencatat pelemahan terdalam di kawasan, yakni 0,56%. Won Korea Selatan menyusul dengan penurunan 0,42%.

Rupiah berada di posisi ketiga dengan pelemahan 0,38%. Dolar Taiwan turun 0,26%, disusul baht Thailand yang melemah 0,14% dan peso Filipina turun 0,13%.

Yuan China menjadi mata uang dengan pelemahan paling tipis, hanya 0,04% terhadap dolar AS.

Sentimen Domestik Pasca Pergantian Menkeu

Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menilai pelemahan rupiah dipicu sentimen dalam negeri. Pasar masih mencermati perkembangan setelah pergantian menteri keuangan.

"Menteri Keuangan baru Suahasil Nazara menghadapi tantangan untuk menjaga dua kepentingan yang kerap berhadapan dalam kebijakan fiskal, guna mendorong pertumbuhan ekonomi sekaligus mempertahankan disiplin dan kredibilitas Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN)," kata Ibrahim kepada wartawan.

Menurut Ibrahim, prioritas utama adalah menjaga kapasitas fiskal untuk mendorong pertumbuhan. Pemerintah juga perlu memastikan penggunaan instrumen fiskal berjalan dengan aturan dan koordinasi yang jelas.

"Kredibilitas fiskal memiliki nilai bukan semata karena neraca pemerintah terlihat sehat, melainkan karena kesehatan tersebut menciptakan ruang bagi pemerintah untuk bertindak ketika terjadi guncangan ekonomi," ujarnya.

Defisit APBN dan Kecepatan Konsolidasi

Komitmen menahan defisit APBN di bawah 3% terhadap produk domestik bruto (PDB) tetap penting untuk menjaga kepercayaan terhadap fiskal Indonesia. Namun, kondisi global yang masih dibayangi mahalnya global duration dan permintaan domestik yang belum sepenuhnya kuat menuntut kehati-hatian dalam menentukan kecepatan konsolidasi.

"Selain itu, tugas Menteri Keuangan baru bukan sekadar menentukan apakah kebijakan fiskal harus lebih ekspansif atau konservatif. Yang lebih penting adalah membangun aturan, urutan kebijakan, dan koordinasi antar lembaga yang memungkinkan fiskal tetap menjadi mesin pendukung pertumbuhan tanpa mengorbankan kredibilitas," jelas Ibrahim.

Pelemahan rupiah pagi ini mencerminkan pasar masih menimbang arah kebijakan fiskal ke depan. Bagi importir dan pelaku usaha yang bergantung pada bahan baku dolar AS, pergerakan ini langsung menambah biaya, sementara eksportir berpeluang menikmati nilai tukar yang lebih kompetitif.

Terkini