Yield Obligasi Malaysia Susut ke 115 Basis Poin, Investor Jepang Terancam Hengkang

Yield Obligasi Malaysia Susut ke 115 Basis Poin, Investor Jepang Terancam Hengkang

FINANSIALNEWS.COM — Selisih imbal hasil obligasi Malaysia tenor 10 tahun dengan surat utang Jepang menyusut ke sekitar 115 basis poin, jauh di bawah rata-rata lima tahun terakhir yang mencapai 278 basis poin. Penyempitan ini memicu kekhawatiran investor Jepang akan menarik dana dari pasar obligasi Negeri Jiran, terutama jika Bank of Japan kembali menaikkan suku bunga.

Kepemilikan investor Jepang pada surat utang Malaysia tercatat 1,1 triliun yen atau sekitar USD 7,1 miliar per akhir 2025. Angka itu menjadi yang tertinggi sejak data mulai tersedia pada 2014.

Posisi tersebut setara 13 persen dari total investasi obligasi Jepang di kawasan Asia. Eksposur terhadap Malaysia bahkan melampaui Thailand, Indonesia, dan Filipina.

Penyempitan Yield Picu Risiko Yen Carry Trade

Kepala Riset Pasar dan Perbendaharaan Regional Bank CIMB, Michelle Chia, menilai selisih yield yang kian tipis membuat aset Malaysia kurang menarik bagi investor Jepang.

"Obligasi pemerintah Malaysia menghadapi tekanan dari tingginya imbal hasil pemerintah AS. Sementara kenaikan yield obligasi Jepang meningkatkan biaya peluang untuk berinvestasi pada aset dengan durasi panjang di luar negeri," kata Michelle Chia.

Kondisi tersebut memperbesar risiko berakhirnya strategi yen carry trade. Investor meminjam dana dalam yen berbiaya rendah, lalu menempatkannya pada aset berimbal hasil lebih tinggi di negara lain.

Yield obligasi pemerintah Jepang tenor 10 tahun naik ke level tertinggi dalam tiga dekade pada awal September. Kenaikan dipicu kekhawatiran inflasi, peningkatan belanja pemerintah, dan ekspektasi kenaikan suku bunga BOJ.

Tekanan dari Dalam Negeri Ikut Membebani

Pasar surat utang Malaysia juga tertekan pasokan obligasi yang meningkat dalam beberapa bulan terakhir. Kondisi itu mendorong ekspektasi bahwa Bank Negara Malaysia akan menaikkan suku bunga acuan.

BNM masih mempertahankan suku bunga pada awal September. Meski begitu, bank sentral memberi sinyal biaya pinjaman dapat mulai dinaikkan.

Pasar swap memperkirakan probabilitas kenaikan suku bunga 50 basis poin dalam 12 bulan ke depan mencapai 80 persen. Angka itu melonjak dari perkiraan akhir Agustus yang kurang dari 25 basis poin.

Tekanan tercermin dari yield obligasi pemerintah Malaysia tenor 10 tahun. Sejak akhir Juni, yield surat utang tersebut naik 54 basis poin dan berada di jalur kenaikan kuartalan terbesar dalam hampir satu dekade.

Proyeksi: Aksi Jual Berlanjut

Strategis Suku Bunga dan Valuta Asing Asia Pasar Berkembang BNP Paribas, Chandresh Jain, menyebut pertumbuhan ekonomi kuat, risiko inflasi, dan tekanan fiskal akibat subsidi bahan bakar menjadi tantangan pasar obligasi Malaysia.

"Kami memperkirakan aksi jual obligasi Malaysia akan berlanjut," ujar Jain.

Bagi investor Indonesia, pelemahan pasar obligasi Malaysia bisa menjadi sinyal waspada. Selisih yield surat utang Indonesia dengan Jepang juga menyempit dalam tren serupa, seiring kenaikan yield JGB dan ketidakpastian arah suku bunga The Fed.

Pergerakan dana investor Jepang di Asia Tenggara akan menjadi faktor penting yang menentukan arah capital inflow ke pasar surat utang kawasan dalam beberapa bulan mendatang.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index