FINANSIALNEWS.COM — Bank Mandiri membukukan laba bersih bank only Rp 37,49 triliun hingga Agustus 2026, tumbuh 22,3% secara tahunan dari Rp 30,65 triliun pada periode sama 2025. Kenaikan ini ditopang pendapatan bunga bersih dan fee yang tetap mengalir deras, meski tekanan biaya dana masih membayangi industri perbankan.
Pencapaian Mandiri melampaui dua bank besar lain yang sudah merilis laporan bulanan pada Rabu (16/9). BNI mencatat laba Rp 14,32 triliun atau naik 6,89% yoy, sementara BCA membukukan Rp 40,17 triliun dengan pertumbuhan 2,85% yoy.
Pendapatan Bunga dan Fee Jadi Penopang
Pendapatan bunga bersih (NII) Mandiri naik 7,15% yoy menjadi Rp 54,84 triliun. Pendapatan komisi, provisi, fee, dan administrasi tumbuh lebih kencang, yakni 21,95% yoy menjadi Rp 15,53 triliun.
Fee-based income perseroan tercatat tumbuh 12,9% yoy, ditopang recurring fee dari Livin' dan Kopra. Laba operasional Mandiri ikut naik 22,74% yoy menjadi Rp 46,06 triliun.
Direktur Finance & Strategy Bank Mandiri Novita Widya Anggraini menyebut capaian itu jadi landasan menjaga pertumbuhan sehat dan berkelanjutan.
"Ke depan, kami akan menjaga kualitas intermediasi sekaligus memperkuat kapabilitas digital Bank Mandiri. Langkah ini kami jalankan agar dapat terus memberikan kontribusi bagi perekonomian nasional dan menghadirkan layanan perbankan yang nyaman bagi nasabah," ujar Novita dalam keterangan resminya.
Catatan pentingnya, beban impairment Mandiri naik 23,57% yoy menjadi Rp 5,55 triliun. Kenaikan pencadangan itu belum menggerus laba karena pendapatan operasional tumbuh lebih cepat.
Kredit dan DPK Tumbuh Kompak
Dari sisi intermediasi, kredit Bank Mandiri secara bank only mencapai Rp 1.592,2 triliun hingga Agustus 2026, tumbuh 17,64% yoy. Dana pihak ketiga (DPK) naik 17,56% yoy menjadi Rp 1.687,22 triliun.
Pertumbuhan DPK ditopang lonjakan deposito 47,77% yoy menjadi Rp 501,44 triliun. Giro tumbuh 5,51% yoy menjadi Rp 623,09 triliun dan tabungan naik 11,36% yoy menjadi Rp 562,69 triliun.
BNI dan BCA di Jalur Berbeda
BNI mencatat NII tumbuh dua digit, 14,33% yoy menjadi Rp 28,87 triliun. Pendapatan komisi, provisi, fee, dan administrasi juga naik 11,62% yoy menjadi Rp 7,46 triliun. Namun beban impairment BNI naik 26,9% yoy menjadi Rp 5,92 triliun, dengan laba operasional tumbuh 9,56% yoy menjadi Rp 17,72 triliun.
Kredit BNI bank only tumbuh paling agresif, 27,14% yoy menjadi Rp 977,17 triliun. DPK ikut naik 29,4% yoy menjadi Rp 1.124,71 triliun, ditopang deposito yang melesat 63,75% menjadi Rp 389,94 triliun.
BCA bergerak lebih hati-hati. NII hanya naik 1,33% yoy menjadi Rp 53,82 triliun, tetapi pendapatan komisi, provisi, fee, dan administrasi masih tumbuh 7,74% yoy menjadi Rp 13,59 triliun. Beban impairment BCA justru turun 18,55% yoy menjadi Rp 2,16 triliun.
Kredit BCA bank only mencapai Rp 1.017,7 triliun, tumbuh 10,52% yoy. DPK naik 8,33% yoy menjadi Rp 1.256,83 triliun, dengan giro meningkat 14,73% menjadi Rp 447,51 triliun dan tabungan tumbuh 8,2% menjadi Rp 626,70 triliun. Deposito BCA turun 4,3% menjadi Rp 182,63 triliun.
Tekanan Biaya Dana Masih Mengintai
Direktur BCA Vera Eve Lim menargetkan kredit tumbuh mendekati 10% hingga akhir 2026, ditopang segmen korporasi, komersial, dan UKM. Meski begitu, margin bunga bersih (NIM) diproyeksikan menurun seiring persaingan perbankan yang makin ketat.
"Kami prediksikan NIM mungkin akan terus menurun. Tapi volume terus meningkat. Jadi laba buat perbankan akan terjaga baik," ujar Vera dalam Public Expose Live 2026.
Bagi nasabah dan pelaku usaha, pertumbuhan kredit tiga bank besar ini menandakan penyaluran pembiayaan masih terbuka lebar. Namun kompetisi memperebutkan dana murah akan menentukan seberapa lama laba bank bisa bertahan di level saat ini.