FINANSIALNEWS.COM — Pembangunan proyek Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) Bogor Raya 1 di Galuga resmi dimulai dengan nilai investasi Rp 2,8 triliun. Fasilitas ini ditargetkan mengelola lebih dari 500.000 ton sampah per tahun atau sekitar 45% dari total timbulan sampah di Kota dan Kabupaten Bogor.
Chief Investment Officer BPI Danantara, Pandu Sjahrir, menyatakan proyek PSEL Bogor Raya 1 dirancang untuk memberi dampak nyata pada pengolahan sampah, penyediaan energi hijau, dan pemberdayaan ekonomi lokal. Fasilitas ini mengacu pada standar lingkungan hidup Industrial Emissions Directive (IED).
Dari sisi kapasitas, proyek tersebut diproyeksikan mengelola lebih dari 500.000 ton sampah per tahun. Angka itu setara dengan sekitar 45% timbulan sampah terkelola di Kota dan Kabupaten Bogor.
Reduksi Emisi dan Pasokan Listrik untuk 100.000 Rumah
Pandu menyebut fasilitas ini dapat mereduksi emisi sampah dari Tempat Pembuangan Akhir (TPA) hingga 80%. Proyek juga diproyeksikan menurunkan emisi karbon sebesar 645.000 ton setara CO2 per tahun.
Dari sisi energi, PSEL Bogor Raya 1 akan menghasilkan energi hijau yang mampu menyuplai lebih dari 100.000 rumah masyarakat Bogor Raya. Pembangunan fasilitas ini diperkirakan menciptakan 1.200 lapangan pekerjaan.
Pemerintah Targetkan Selesai Dua Tahun
Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup Mohammad Jumhur Hidayat berharap fasilitas pengolahan sampah menjadi listrik ini selesai dalam dua tahun ke depan. Harapan itu disampaikan agar persoalan sampah di wilayah Bogor dapat segera diatasi.
Jumhur mengingatkan penanganan sampah tetap harus berjalan selama masa pembangunan. Sampah, terutama organik, terus dihasilkan masyarakat setiap hari.
"Kita berharap maksimum dua tahun ke depan ini selesai. Namun persoalannya adalah juga dari sekarang sampai dua tahun sampah jalan terus. Dan yang khususnya organik, organik yang menimbulkan bau dan sebagainya, itu juga akan jalan terus," kata Jumhur.
Beban Sampah Bogor Raya dan Urgensi Fasilitas Baru
Kapasitas 500.000 ton per tahun menunjukkan skala persoalan sampah yang harus ditangani Bogor Raya. Tanpa fasilitas pengolahan, sebagian besar sampah berakhir di TPA dengan risiko pencemaran udara dan air tanah.
Kehadiran PSEL mengubah pendekatan dari sekadar penimbunan menjadi pengolahan dengan output listrik. Skema ini lazim disebut waste-to-energy dan mulai banyak diadopsi di kota-kota besar Asia Tenggara.
Bagi pelaku usaha di sektor energi dan pengelolaan limbah, proyek senilai Rp 2,8 triliun ini membuka peluang rantai pasok. Mulai dari konstruksi, peralatan pengolahan, hingga operasional dan pemeliharaan fasilitas.
Yang Perlu Dicermati Selama Konstruksi
Rentang dua tahun pembangunan menjadi fase kritis. Selama periode itu, volume sampah harian tetap mengalir dan menuntut penanganan sementara yang tidak menimbulkan masalah baru.
Pemerintah daerah perlu memastikan tidak ada penumpukan sampah di titik-titik transit. Kesiapan armada angkut dan lokasi penampungan sementara akan menentukan kelancaran masa transisi.
Jika target rampung terealisasi, Bogor Raya akan punya infrastruktur pengolahan sampah berkapasitas besar dengan manfaat ganda. Persoalan limbah berkurang, pasokan listrik hijau bertambah, dan lapangan kerja lokal terbuka.