JAKARTA - Perum Bulog Kantor Wilayah Bali mulai menggerakkan strategi penyerapan beras dan gabah petani lokal sebagai bagian dari upaya menjaga ketahanan pangan sekaligus melindungi harga di tingkat produsen.
Program ini menjadi penting di tengah fluktuasi harga beras dan kondisi musim panen yang belum merata di seluruh wilayah Pulau Dewata. Dengan target penyerapan setara jutaan kilogram sepanjang 2026, Bulog Bali menempatkan petani sebagai mitra utama dalam menjaga pasokan pangan daerah.
Langkah ini sekaligus menjadi bentuk kesiapan Bulog Bali menghadapi dinamika produksi pertanian di awal tahun. Meskipun sebagian besar wilayah Bali belum memasuki masa panen raya, Bulog memastikan mekanisme penyerapan sudah disiapkan sejak Januari 2026 agar tidak terjadi keterlambatan ketika produksi mulai meningkat.
Target Penyerapan Jutaan Kilogram Sepanjang 2026
Pimpinan Wilayah Bulog Bali M Anwar menyampaikan bahwa pihaknya telah menetapkan target penyerapan yang cukup besar untuk tahun ini.
“Target Kanwil Bali Tahun 2026 untuk gabah kering panen (GKP) 724.000 kg, untuk beras 3.419.000 kg, jadi kalau ditotal setara beras 3.786.000 kilogram (kg),” kata M Anwar.
Ia menjelaskan bahwa penyerapan beras dan gabah petani lokal sudah siap dimulai sejak Januari 2026. Meski demikian, kondisi lapangan menunjukkan bahwa sebagian besar wilayah Bali masih berada pada fase tanam dan belum memasuki panen raya. Panen yang terjadi saat ini masih berskala kecil dan hanya berlangsung di beberapa kabupaten.
Situasi tersebut membuat aktivitas serapan Bulog di awal tahun berjalan secara bertahap. Bulog menyesuaikan dengan kondisi produksi di lapangan tanpa mengurangi komitmen untuk menyerap hasil panen petani lokal sesuai target yang telah ditetapkan.
Harga Tinggi Pengaruhi Pola Penjualan Petani
Anwar mengungkapkan bahwa salah satu faktor yang memengaruhi belum optimalnya penyerapan di awal tahun adalah harga gabah dan beras di tingkat petani yang masih relatif tinggi.
“Harga gabah atau beras di tingkat petani masih relatif tinggi, sehingga sebagian petani yang panen pada periode ini cenderung memanfaatkan hasil panennya untuk konsumsi sendiri dan sebagian lainnya memilih menjual ke luar karena harga jual yang masih tinggi,” ujarnya.
Kondisi ini menunjukkan bahwa petani memiliki ruang untuk memilih saluran distribusi yang dianggap paling menguntungkan. Di satu sisi, tingginya harga memberi keuntungan langsung bagi petani. Namun di sisi lain, situasi tersebut juga menuntut Bulog untuk tetap aktif menjalin komunikasi agar penyerapan dapat dilakukan ketika volume panen meningkat.
Meski menghadapi tantangan tersebut, Bulog Bali menegaskan bahwa kesiapan penyerapan tetap berjalan sesuai rencana. Penyerapan gabah dan beras akan dilakukan secara langsung di tingkat petani agar prosesnya lebih cepat dan transparan.
Serap Langsung dari Petani untuk Jaga Stabilitas Harga
Anwar menegaskan bahwa strategi penyerapan tahun ini difokuskan langsung ke petani sebagai langkah konkret mendukung kebijakan pemerintah.
“Kegiatan penyerapan gabah di awal tahun 2026 kami lakukan langsung di tingkat petani, ini merupakan bentuk komitmen dan gerak cepat Bulog Bali atas arahan Menteri Pertanian dan Direksi Perum Bulog dalam rangka optimalisasi serap gabah dan beras serta mendukung swasembada pangan yang berkelanjutan,” kata dia.
Penyerapan ini tidak hanya ditujukan untuk memenuhi cadangan pangan, tetapi juga menjadi instrumen penting dalam menjaga stabilitas harga. Bulog Bali berupaya memastikan agar harga gabah tidak jatuh di bawah Harga Pembelian Pemerintah (HPP) yang telah ditetapkan.
“Dengan penyerapan ini, kami berharap harga gabah di tingkat petani tetap stabil dan tidak turun di bawah HPP sebesar Rp6.500 per kilogram,” ucapnya.
Melalui kebijakan tersebut, Bulog Bali ingin memastikan bahwa petani tetap memperoleh kepastian harga, sementara pemerintah mendapatkan pasokan beras yang cukup untuk menjaga stabilitas pasar. Sinergi ini diharapkan mampu menciptakan hubungan saling menguntungkan antara petani dan negara.
Sinergi Lintas Sektor Dukung Ketahanan Pangan
Untuk memperkuat pelaksanaan penyerapan, Bulog Bali juga membangun koordinasi dengan berbagai pihak. Anwar menyebut bahwa pihaknya rutin menggelar rapat koordinasi bersama TNI, Polri, penyuluh pertanian lapangan (PPL), Dinas Pertanian, serta dinas terkait lainnya.
Melalui kerja sama lintas sektor ini, Bulog berupaya hadir langsung di tengah petani sebagai mitra strategis. Pendekatan tersebut penting untuk memastikan bahwa informasi mengenai harga, mekanisme penyerapan, dan jadwal panen dapat tersampaikan dengan baik kepada petani.
Anwar menegaskan bahwa komitmen Bulog Bali tidak hanya berhenti pada target kuantitatif, tetapi juga pada upaya menjaga kesejahteraan petani. Kehadiran Bulog di lapangan diharapkan mampu memberikan rasa aman bagi petani bahwa hasil panen mereka memiliki pembeli dengan harga yang jelas dan sesuai kebijakan pemerintah.
Dengan target penyerapan setara 3,7 juta kilogram beras sepanjang 2026, Bulog Bali menempatkan perannya sebagai penyangga stabilitas pangan daerah. Program ini menjadi bagian dari kontribusi Bali dalam mendukung ketahanan pangan nasional sekaligus menjaga keberlanjutan produksi pertanian lokal.
Ke depan, Bulog Bali optimistis bahwa seiring masuknya masa panen raya, penyerapan akan berjalan lebih optimal. Melalui strategi serap langsung, stabilisasi harga, serta koordinasi lintas instansi, Bulog berharap petani dapat terus berproduksi dengan tena