Rupiah Menguat Rp17.933 per Dolar AS Ditopang PDB Kuartal II

Rupiah Menguat Rp17.933 per Dolar AS Ditopang PDB Kuartal II
Nilai tukar rupiah berakhir menguat cukup berarti terhadap dolar Amerika Serikat. (Foto: NET)

JAKARTA — Nilai tukar rupiah berakhir menguat cukup berarti terhadap dolar Amerika Serikat saat penutupan perdagangan hari Rabu.

Kenaikan nilai tukar rupiah ini seiring dengan membaiknya sentimen risiko global setelah harga minyak mengalami koreksi, sehingga meredam kekhawatiran terhadap lonjakan inflasi akibat ketegangan geopolitik.

Pada ranah domestik, pencapaian pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II/2026 yang melampaui perkiraan turut mendongkrak optimisme investor terhadap prospek fundamental ekonomi tanah air.

Mata uang Garuda menyudahi sesi perdagangan pada posisi Rp17.933 per dolar AS, mencatatkan penguatan sebesar 94 poin atau 0,52%.

Apiknya apresiasi nilai tukar rupiah ini sekaligus menempatkannya pada jajaran mata uang berkinerja terbaik di kawasan Asia pada perdagangan hari ini.

Sementara itu, jajaran mata uang Asia yang mengalami penguatan terbesar terhadap dolar AS dipimpin oleh peso Filipina sebesar 0,69%, diikuti dolar Taiwan 0,50%, rupiah 0,52%, won Korea Selatan 0,28%, baht Thailand 0,16%, rupee India 0,18%, serta ringgit Malaysia 0,05%.

Di sisi lain, koreksi nilai tukar terhadap dolar AS hanya dialami oleh sebagian kecil mata uang regional. Dolar Singapura tercatat melemah 0,02%, sedangkan yuan China bergerak cenderung stabil.

Analis Mata Uang Lukman Leong menyatakan bahwa apresiasi rupiah disokong oleh meredanya tekanan global usai harga minyak mentah dunia merosot di tengah harapan terwujudnya perdamaian di kawasan Timur Tengah.

"Rupiah ditutup menguat cukup besar di level 17.933 terhadap dolar AS oleh menurunnya harga minyak mentah dunia di tengah harapan damai di Timur Tengah. Data PDB kuartal II Indonesia yang lebih kuat dari perkiraan semakin mendukung penguatan rupiah," ujarnya, Rabu (5/8/2026).

Besaran produk domestik bruto Indonesia pada kuartal II/2026 tercatat menorehkan pertumbuhan 3,73% secara kuartalan.

Adapun secara tahunan, pertumbuhan ekonomi tersebut berada di angka 5,29%.

Menurutnya, para pelaku pasar selanjutnya akan mencermati sejumlah rilis data penting perekonomian asal Amerika Serikat yang berpotensi memandu arah pergerakan dolar AS.

Sejumlah data ekonomi krusial masih dinantikan, di antaranya data ISM Services serta ADP Amerika Serikat yang dijadwalkan rilis malam ini.

Apabila tidak muncul sentimen negatif bersumber dari faktor eksternal, rupiah diprediksi masih mempunyai ruang untuk melanjutkan tren penguatannya pada kisaran Rp17.850 hingga Rp18.000 per dolar AS keesokan harinya.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index