JAKARTA - Kendaraan hibrida bertipe Plug-in Hybrid Electric Vehicle (PHEV) dipandang mampu menghadirkan jalan keluar guna mengatasi berbagai hambatan dalam pemanfaatan mobil bertenaga listrik.
"PHEV menghadirkan pengalaman berkendara elektrik untuk aktivitas sehari-hari sekaligus memberikan ketenangan untuk melakukan perjalanan jarak jauh tanpa dibayangi range anxiety," ucap Kepala Bagian Penjualan dan Pemasaran Doni Putra Okten.
Keunggulan dari kendaraan tersebut apabila dikomparasikan dengan mobil listrik murni sempat diungkapkan pada sebuah forum diskusi yang dihelat Selasa (4/8) di pameran otomotif Tangerang, Banten.
Pada acara yang dihadiri kalangan pemangku kepentingan industri serta pemerhati keselamatan berkendara tersebut diterangkan bahwa teknologi ini mengawinkan motor listrik berbasis baterai bersama mesin konvensional berbahan bakar minyak.
Model tersebut memfasilitasi pengemudi untuk memanfaatkan tenaga listrik murni ketika menempuh rute dekat, kemudian otomatis beralih ke mesin pembakaran internal saat melakukan mobilitas jarak jauh.
Adopsi moda transportasi semacam itu diyakini sanggup memangkas kegundahan seputar terbatasnya radius jelajah dari kendaraan elektrifikasi.
Di samping menyuguhkan efisiensi daya yang tinggi, jenis hibrida ini pun dipercaya mampu meredakan kecemasan pemilik seputar aspek proteksi baterai kendaraan ramah lingkungan.
Sampai saat ini, rasa khawatir terhadap potensi kebakaran, umur komponen yang singkat, hingga tingginya ongkos perawatan baterai masih kerap menghinggapi benak sebagian pengguna.
Padahal, rangkaian baterai pada kendaraan modern kini telah melewati serangkaian prosedur pengujian ketat mulai dari uji benturan, performa pada suhu ekstrem, hingga keandalan sistem manajemen baterai atau Battery Management System (BMS).
Tenaga ahli produk Ichsan Aria Putra menyebutkan bahwa mayoritas keraguan masyarakat sebenarnya telah terjawab berkat implementasi standar proteksi yang ketat beserta panduan operasional yang tepat.
"Setiap baterai telah melalui pengujian keselamatan dan ketahanan yang komprehensif sebelum digunakan oleh konsumen," ujarnya dalam sesi diskusi yang diselenggarakan bersama lembaga pengawas keselamatan.
"BMS kami juga dirancang untuk menjaga kesehatan baterai dalam jangka panjang dengan mengoptimalkan proses pengisian, penggunaan, hingga perlindungan terhadap berbagai kondisi operasional," tambahnya.
Perwakilan dari lembaga pemerhati keselamatan Mahaendra Gofar menggarisbawahi bahwa perpindahan menuju era kendaraan listrik memerlukan penerapan standar keamanan yang mumpuni serta edukasi berkelanjutan bagi publik.
"PHEV memiliki peran strategis sebagai jembatan yang mempercepat adopsi kendaraan listrik di Indonesia. Namun, keberhasilan transisi ini juga bergantung pada edukasi yang mampu membangun kepercayaan masyarakat terhadap teknologi tersebut," tuturnya.
Lebih lanjut, ia juga menyoroti krusialnya ketersediaan fasilitas pengisian ulang serta dukungan purnajual yang memadai selama masa peralihan energi ini berlangsung.
Ketika ekosistem infrastruktur pendukung pengisian daya masih terbatas seperti sekarang, opsi hibrida ini dinilai sangat tepat bagi masyarakat yang berkeinginan beralih ke moda transportasi yang lebih hijau.