JAKARTA — Sektor industri pengolahan atau manufaktur, yang selama ini menjadi lapangan usaha penggerak utama roda perekonomian, memperlihatkan tren pelambatan serta penurunan sumbangsih.
Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan bahwa pertumbuhan ekonomi nasional mencapai 5,29% secara tahunan pada kuartal II/2026.
Berdasarkan sisi lapangan usaha, sektor manufaktur masih tampak dominan sebagai motor penggerak utama dengan menyumbangkan sumbangsih distribusi terhadap PDB sebesar 18,50%.
Meskipun demikian, laju pertumbuhan sektor manufaktur tertahan pada angka 4,52% YoY.
Perolehan tersebut melambat jika dibandingkan kinerja pada kuartal terdahulu yang sebesar 5,14% YoY, ataupun kuartal serupa tahun sebelumnya yang sempat mencapai 5,60% YoY.
Akibat dari pelambatan laju tersebut, daya dorong sektor manufaktur terhadap struktur pertumbuhan ekonomi nasional pun turut tergerus.
Pada kuartal II/2026, industri manufaktur hanya sanggup menyumbangkan sumber pertumbuhan sebesar 0,90% terhadap total pertumbuhan ekonomi (5,29%).
Walaupun angka 0,90% tersebut masih menjadi yang tertinggi dibandingkan lapangan usaha lain, sumbangsih ini terus menyusut: pada kuartal sebelumnya, manufaktur masih sanggup berkontribusi sebesar 1,03% (terhadap pertumbuhan 5,61%); sementara pada kuartal serupa sebelumnya kontribusinya mencapai 1,13% (terhadap pertumbuhan 5,12%).
Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS M. Edy Mahmud mengungkapkan bahwa faktor utama menyusutnya kinerja manufaktur berasal dari dua subsektor yang mengalami pertumbuhan negatif.
"Pertumbuhan manufaktur melambat disebabkan oleh kontraksi pertumbuhan di industri batu bara dan pengilangan migas. Non-migasnya bagus, tapi industri migasnya tumbuh negatif," jelas Edy dalam konferensi pers di Kantor BPS, Jakarta, Rabu (5/8/2026).
Mengacu pada catatan BPS, laju industri subsektor batu bara serta pengilangan minyak dan gas (migas) tumbuh negatif atau mengalami kontraksi sebesar 3,97% YoY dan 0,15% secara kumulatif hingga kuartal kedua ini.
Keadaan kedua subsektor beban inilah yang pada akhirnya secara agregat menekan total laju manufaktur.
Di sisi lain, Edy menegaskan bahwa apabila komponen migas serta batu bara tersebut disingkirkan, maka industri manufaktur nasional sebenarnya masih tumbuh positif.
"Untuk industri non-migas pada kuartal II/2026 ini tumbuh lebih cepat. Non-migas itu tumbuh 5,32% secata tahunan dan 5,23% secara kumulatif," papar Edy.
Dengan kata lain, tekanan terhadap sektor manufaktur nasional saat ini sangat terpusat pada pelemahan di sektor komoditas energi beserta pengilangannya.