JAKARTA - Rata-rata nilai minyak mentah Indonesia atau Indonesian crude price (ICP) terus mempertahankan pola pelemahan. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memastikan rata-rata ICP berada di angka US$81,68 per barel untuk kurun waktu Juli 2026.
Banderol minyak tersebut mencatatkan kontraksi sebesar 2,12% atau 1,77 per barel jika dikomparasikan dengan periode Juni 2026 yang menyentuh US$83,45 per barel.
Penentuan ICP Juli 2026 termaktub dalam Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia Nomor 319.K/MG.03/MEM.M/2026 mengenai Harga Minyak Mentah Indonesia Bulan Juli 2026.
Sebelumnya, ICP sempat melesat ke US$102,26 per barel pada Maret 2026 akibat memanasnya perselisihan di Timur Tengah yang mengganggu suplai energi dunia serta mendongkrak harga minyak mentah global.
Akan tetapi, ICP terus menyusut dalam beberapa waktu terakhir dan terperosok ke posisi US$83,45 per barel pada Juni 2026.
Diberitakan sebelumnya, Kementerian ESDM mengungkapkan, jatuhnya ICP pada Juni 2026 tidak terlepas dari meredanya tensi konflik geopolitik di Timur Tengah.
"Angka ini mengalami penurunan signifikan sebesar US$22,50 per barel dibandingkan bulan sebelumnya yang berada di level US$106,56 per barel. Penurunan ini secara umum dipengaruhi oleh tensi konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran yang cenderung mereda sepanjang bulan Juni," kata Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Migas) Kementerian ESDM Laode Sulaeman melalui keterangan resmi dikutip Selasa (21/7/2026).
Sementara itu, melansir CNBC Internasional, Senin (10/8/2026), harga minyak mentah dunia justru menguat di tengah ketidakpastian negosiasi Amerika Serikat (AS) dengan Iran terkait pembukaan Selat Hormuz.
Harga minyak mentah Brent untuk pengiriman Oktober naik 0,53% menjadi US$83,99 per barel, sedangkan minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman September meningkat 0,37% menjadi US$78,47 per barel.