FINANSIALNEWS.COM — Emas Terkoreksi, tetapi Fundamental China Masih Menopang Kinerja emas sepanjang Agustus memang masih impresif, tetapi momentum itu kini mulai melambat. Data Refinitiv menunjukkan harga emas dunia berada di US$4.447 per troy ons pada awal pekan ini. Angka ini jauh di bawah level tertingginya yang sempat mendekati US$4.700 per troy ounce pada awal pekan lalu, tepatnya sebelum pidato Kevin Warsh di simposium Jackson Hole. Dalam pidatonya, Warsh menegaskan ekonomi AS masih kuat dan inflasi tetap tinggi. Pernyataan itu langsung mengubah ekspektasi pasar. Peluang kenaikan suku bunga The Fed pada September melonjak dari 33% menjadi 57%. Dolar AS pun menguat dan memberi tekanan langsung pada logam mulia.
Mengapa Pidato Jackson Hole Mengubah Arah Pasar
Reaksi pasar terhadap pidato Warsh sangat cepat dan brutal. Harga emas yang semula berada di kisaran US$4.690 per troy ons ambruk menuju US$4.450 hanya dalam hitungan hari. Pasar kembali memperhitungkan skenario suku bunga tinggi lebih lama, yang membuat aset tanpa imbal hasil seperti emas kehilangan daya tarik. Penurunan ini memperlihatkan betapa rapuhnya momentum reli jika ekspektasi moneter berubah. Investor kini menunggu data tenaga kerja AS yang akan dirilis 4 September. Laporan tersebut menjadi penentu utama arah kebijakan pada rapat The Fed 15-16 September.Volume Perdagangan Menyusut, Investor Menepi
Kehati-hatian pasar terlihat jelas dari aktivitas perdagangan berjangka. Volume kontrak emas futures turun signifikan menjadi sekitar 188.000 kontrak pada 26 Agustus, dibandingkan hampir 300.000 kontrak pada 19 Agustus. Minusnya partisipasi ini menandakan investor memilih menunggu kepastian sebelum mengambil posisi baru. Kondisi ini membuat emas berpotensi memasuki fase konsolidasi dengan rentang pergerakan yang terbatas. Tren jangka panjang mungkin masih bullish, tetapi tanpa katalis baru, pergerakan harga dalam jangka pendek cenderung sideways.China Justru Borong Emas di Pasar OTC
Di tengah tekanan dari kebijakan moneter AS, ada satu kekuatan yang menjaga harga emas tidak jatuh lebih dalam: permintaan fisik dari China. Data menunjukkan China membeli lebih dari 40 ton emas melalui pasar over-the-counter (OTC) London pada Juni 2026. Angka tersebut merupakan pembelian bulanan terbesar kedua sejak awal 2025 dan melampaui jumlah yang dilaporkan resmi oleh People's Bank of China (PBoC). Ini mengindikasikan akumulasi emas China kemungkinan lebih besar daripada yang tercatat dalam data cadangan devisa. Tren pembelian emas China yang berlangsung sekitar 20 bulan berturut-turut menjadi sinyal diversifikasi cadangan yang masih berlanjut.Meski begitu, tekanan terbesar bagi emas saat ini tetap datang dari arah kebijakan moneter The Fed. Jika data tenaga kerja AS pekan depan kembali kuat, dolar berpotensi menguat lebih jauh dan emas berisiko kehilangan level US$4.400. Sebaliknya, data yang lemah bisa memunculkan kembali spekulasi pemangkasan suku bunga dan memberi emas amunisi untuk bangkit. Untuk saat ini, emas masih punya potensi naik, tetapi The Fed adalah penghalang utama di depannya. Investor perlu mencermati setiap sinyal dari Washington dan data makro yang akan dirilis dalam pekan-pekan mendatang. Investasi mengandung risiko.