FINANSIALNEWS.COM — Federal Reserve menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin dalam rapat FOMC, Rabu (16/9), kenaikan pertama sejak Juli 2023. Keputusan bulat 12-0 itu mendorong dolar AS menguat terhadap mayoritas mata uang Asia, termasuk rupiah yang melemah ke level Rp 17.753. Pasar kripto ikut bergerak, dengan Bitcoin bertahan di kisaran US$ 76.400.
The Fed juga memberi sinyal masih terbuka ruang kenaikan lanjutan hingga akhir tahun. Tujuannya menahan laju inflasi agar kembali ke target 2%.
"Kebijakan hari ini akan mendukung kembalinya inflasi ke target Komite sebesar 2% secara lebih cepat. Komite akan mewujudkan stabilitas harga," kata FOMC dikutip dari CNBC.
Rupiah Melemah 0,32%, Ringgit Ikut Tertekan
Dolar AS menguat 0,32% terhadap rupiah ke level Rp 17.753 pada Kamis (17/9) pukul 13.18 WIB. Ringgit Malaysia juga melemah, dengan dolar AS menguat 0,50% ke MYR 4,0967/US$.
Tekanan serupa dialami won Korea yang melemah 0,49% ke KRW 1.383,1/US$, serta dolar Taiwan yang turun 0,27% ke TWD 31,86/US$. Peso Filipina dan dong Vietnam masing-masing melemah tipis 0,02% dan 0,04%.
Sebaliknya, sejumlah mata uang Asia justru menguat. Yuan China naik 0,02% ke CNY 6,7074/US$, dolar Singapura menguat 0,18% ke SGD 1,275/US$, dan yen Jepang menguat 0,44% ke JPY 155,58/US$. Bath Thailand juga menguat 0,13% ke THB 33,33/US$.
Bitcoin Bertahan di US$ 76.400
Harga Bitcoin berada di kisaran US$ 76.442 pada Kamis (17/9) sekitar pukul 12.06 WIB. Dalam 24 jam terakhir, BTC naik 1,05%.
Kapitalisasi pasar Bitcoin tercatat US$ 1,53 triliun, naik 0,8%. Volume perdagangan 24 jam mencapai US$ 30,34 miliar, turun 21,79% dibanding periode sebelumnya.
Jumlah Bitcoin yang beredar saat ini sekitar 20,08 juta BTC dari batas maksimum 21 juta BTC. Kelangkaan pasokan ini menjadi salah satu faktor yang menopang harga aset kripto di tengah ketidakpastian global.
Dampak ke Pasar Indonesia
Penguatan dolar AS berpotensi menekan biaya impor dan memperlebar defisit neraca perdagangan Indonesia. Investor asing juga cenderung menarik dana dari pasar negara berkembang saat imbal hasil obligasi AS naik.
Bank Indonesia menghadapi dilema antara menahan pelemahan rupiah dan menjaga momentum pertumbuhan ekonomi domestik. Intervensi di pasar valas kemungkinan kembali dilakukan jika tekanan berlanjut.
Pelaku pasar akan mencermati pernyataan pejabat The Fed dalam beberapa pekan ke depan. Sinyal kenaikan lanjutan hingga akhir tahun bisa memperpanjang tekanan terhadap mata uang Asia, termasuk rupiah.