JAKARTA — Defisit transaksi berjalan atau current account deficit (CAD) Indonesia diprediksi bakal kembali melebar pada tahun 2026. Lonjakan impor di tengah prospek ekspor yang mulai melambat diyakini bakal memperbesar tekanan terhadap ketahanan eksternal tanah air.
Ekonom Permata Bank, Faisal Rachman, menaksir bahwa defisit transaksi berjalan Indonesia akan berada di kisaran 1,0% hingga 2,0% terhadap produk domestik bruto (PDB) sepanjang 2026. Angka tersebut mengalami peningkatan apabila dibandingkan dengan realisasi CAD tahun 2025 yang tercatat sebesar 0,11% dari PDB.
“Kami memperkirakan defisit transaksi berjalan (CAD) akan melebar menjadi 1,0–2,0% dari PDB pada tahun 2026, dari 0,11% dari PDB pada tahun 2025,” tutur Faisal dalam keterangannya, Selasa (4/8/2026).
Menurut Faisal, pelebaran CAD tersebut didorong oleh pertumbuhan impor yang diprediksi melaju lebih kencang ketimbang ekspor.
Berbagai agenda pemerintah yang berfokus pada pertumbuhan diandalkan untuk menjaga permintaan domestik tetap solid, yang pada akhirnya mengerek masuk impor barang modal, bahan baku, serta migas.
Di sisi lain, laju ekspor diramal kembali melambat seusai sempat terkerek oleh percepatan pengiriman barang sebelum pemberlakuan tarif resiprokal di sejumlah negara tujuan.
Prospek ekspor turut dibayangi kelesuan permintaan global—terutama dari Tiongkok—serta ketidakpastian akibat eskalasi geopolitik di Timur Tengah dan perang dagang.
Ia menerangkan, indikasi awal pelebaran CAD ini sudah terlihat dari menyusutnya surplus neraca perdagangan Indonesia sepanjang semester pertama 2026.
Walau kinerja ekspor sempat menunjukkan pembaikan pada Juni 2026 dan surplus nonmigas meningkat, defisit perdagangan migas masih membengkak akibat tingginya angka impor minyak mentah.
Dampaknya, akumulasi surplus perdagangan periode Januari sampai Juni 2026 merosot menjadi US$ 3,58 miliar, terpaut jauh dari angka US$ 19,60 miliar pada rentang waktu yang serupa tahun lalu.
Kendati demikian, Faisal memandang tingkat pelebaran CAD kelak masih sangat bergantung pada pelbagai faktor penentu, utamanya pergerakan harga minyak dunia.
Apabila harga minyak melandai kembali ke kisaran US$ 70 per barel, tekanan dari sektor impor migas diyakini bakal mereda dan membantu memulihkan posisi eksternal Indonesia.
Selain itu, kenaikan impor barang modal dan bahan baku juga menyimpan potensi dampak positif sekiranya mampu dioptimalkan guna mendongkrak kapasitas produksi berorientasi ekspor.
Melalui skenario tersebut, performa ekspor diharapkan dapat pulih sehingga tekanan terhadap transaksi berjalan bisa ditekan lebih terbatas.
Namun demikian, Faisal mengingatkan bahwa peluang pemulihan itu kemungkinan bersifat sementara semata. Surplus perdagangan diprediksikan tetap mengalami penyempitan seirama normalisasi harga komoditas pascalenyapnya fase commodity boom.
Oleh sebab itu, menurutnya, pemulihan posisi eksternal Indonesia dalam jangka panjang tidak bisa sekadar mengandalkan dinamika fluktuasi harga komoditas ataupun minyak dunia.
"Tanpa percepatan transformasi struktural dengan menggenjot industri berorientasi ekspor dan meningkatkan peran Indonesia dalam global supply chain, Indonesia berpotensi kembali mencatatkan defisit perdagangan yang pada akhirnya akan memperlebar defisit transaksi berjalan," ujar Faisal.
Seiring menggunungnya tekanan terhadap transaksi berjalan tersebut, ia turut memproyeksikan posisi cadangan devisa Indonesia bakal menyusut ke kisaran US$ 143 miliar hingga US$ 147 miliar menjelang akhir 2026, turun dari posisi US$ 156,47 miliar pada akhir 2025.
Melihat situasi tersebut, Faisal memperkirakan Bank Indonesia bakal tetap mengarahkan fokus instrumen kebijakan moneternya pada penjagaan stabilitas makroekonomi serta sektor eksternal demi mempertahankan ketahanan perekonomian nasional di tengah gempuran tekanan eksternal.