FINANSIALNEWS.COM — Fraksi Partai NasDem menilai tantangan terbesar Gubernur Bank Indonesia yang baru, Destry Damayanti, bukan sekadar menjaga inflasi, melainkan memulihkan kepercayaan masyarakat dan dunia usaha. Tanpa kepercayaan ini, target pertumbuhan ekonomi 8 persen yang menjadi bagian dari Astacita Presiden Prabowo Subianto dinilai hanya akan menjadi angan-angan.
"Tentu rasa kepercayaan ini harus ditumbuhkan dulu oleh Bank Indonesia kepada masyarakat serta ke depan mesti memberikan kepastian bagi dunia usaha agar dunia usaha kita mampu bangkit kembali," ujar Thoriq Majiddanor, yang akrab disapa Jiddan, di Kompleks Parlemen, Senayan, Selasa (1/9/2026).
Basis Kepercayaan untuk Pertumbuhan Ekonomi 8%
Pernyataan Jiddan muncul di tengah survei yang menunjukkan optimisme pelaku usaha yang masih rendah. Ia menegaskan bahwa kepercayaan menjadi modal utama agar sektor riil kembali bergerak dan mampu berkontribusi pada target pertumbuhan yang ambisius tersebut.
Menurutnya, ada keterkaitan erat antara kebijakan moneter yang kredibel dengan gerak investasi. Jika BI mampu memberikan kepastian kebijakan, dunia usaha akan berani berekspansi, yang pada akhirnya mendorong penciptaan lapangan kerja dan pertumbuhan ekonomi nasional.
Kilas Balik Anjloknya Rupiah ke Level Rp 18.000
Salah satu sorotan utama Jiddan adalah gejolak nilai tukar yang terjadi pada tahun lalu. Rupiah sempat menembus level Rp 18.000 per dolar Amerika Serikat, sebuah posisi yang jauh di luar asumsi makro yang disepakati antara pemerintah dan DPR.
"Kita sama-sama tahu nilai tukar kita sempat masuk ke Rp18.000 lebih, jauh dari asumsi makro yang ditetapkan antara pemerintah bersama DPR," ungkap Jiddan. Pelemahan kurs yang dalam tersebut disebutnya menjadi pemicu utama naiknya biaya impor dan tekanan inflasi.
BI Rate Harus Kembali ke Level 4,5-4,75 Persen
Untuk mengerem pelemahan rupiah, BI sempat menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate. Namun, kebijakan ini dinilai menjadi beban baru bagi sektor usaha karena meningkatkan biaya modal dan kredit.
"Demi menjaga stabilisasi nilai tukar, BI Rate naik menjadi 5,75 persen dan itu menjadi perhatian yang cukup serius," jelasnya. Jiddan berharap di era kepemimpinan Destry Damayanti, suku bunga dapat kembali diturunkan ke kisaran 4,5 hingga 4,75 persen untuk memberikan ruang likuiditas yang lebih longgar bagi industri.
Harapan ini mencerminkan dilema klasik otoritas moneter: menyeimbangkan antara stabilitas eksternal melalui tingkat suku bunga yang tinggi, dengan kebutuhan internal untuk mendorong pertumbuhan melalui kebijakan yang akomodatif.
Investasi mengandung risiko.