The Fed Kembali Naikkan Suku Bunga, Bitcoin Diramal Ulangi Pola 2022

Kamis, 17 September 2026 | 15:43:00 WIB

FINANSIALNEWS.COM — The Federal Reserve menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin, kenaikan pertama dalam lebih dari tiga tahun, dan pasar memperkirakan pengetatan tambahan 75 basis poin dalam enam bulan ke depan. Bagi investor kripto, bayang-bayang siklus 2022 kembali muncul: saat itu Bitcoin sempat reli 18% usai kenaikan pertama, sebelum akhirnya ambruk sekitar 50%.

Pasar tidak berhenti di situ. Pelaku pasar kini memperhitungkan pengetatan tambahan sebesar 75 basis poin dalam enam bulan mendatang, sinyal bahwa era uang murah belum akan kembali dalam waktu dekat.

Bayang-Bayang Siklus 2022

Bagi Bitcoin, sejarah memberikan perbandingan yang tidak nyaman. Aset kripto ini berada sekitar 40% di bawah puncak Oktober di level USD 126.000, posisi yang nyaris identik dengan kondisi saat The Fed mulai menaikkan suku bunga pada Maret 2022.

Saat itu, Bitcoin sudah turun sekitar 40% dari puncaknya di USD 69.000 yang tercatat November 2021. Setelah kenaikan pertama The Fed, Bitcoin justru reli sekitar 18% selama 12 hari berikutnya.

Reli itu tidak bertahan. Bitcoin kemudian jatuh sekitar 50%, membawa pasar kripto ke salah satu periode terburuknya.

Mengapa Siklus Ini Sulit Dibandingkan

Bitcoin memang pernah melewati siklus pengetatan yang dimulai 2015. Namun likuiditas yang lebih tipis dan struktur pasar yang belum matang membuat perbandingan itu kurang bisa diandalkan.

Siklus 2022 dinilai sebagai pembanding paling adil. Alasannya, struktur pasar saat itu sudah jauh lebih matang dibanding periode sebelumnya.

Meski demikian, satu siklus yang sebanding tetap memberikan bukti yang terbatas. Penurunan Bitcoin pada 2022 juga bertepatan dengan kerugian di saham, obligasi, dan logam, ditambah gejolak di dalam industri kripto itu sendiri.

Inflasi Membaik, tapi Ada Ancaman Baru

Alasan The Fed menaikkan suku bunga adalah inflasi. Inflasi headline tahunan telah bertahan di atas 2% selama lebih dari lima tahun.

Ada perbaikan di sisi lain. Inflasi inti yang mengecualikan makanan dan energi telah melandai ke 2,4%, level terendah dalam lima tahun.

Progres itu kini menghadapi guncangan energi. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah mendorong WTI dan Brent jauh di atas USD 100 per barel, mengancam membangkitkan kembali inflasi sekaligus menekan pertumbuhan.

Imbal hasil obligasi global juga merangkak naik. Yield Treasury AS tenor 10 tahun menyentuh 5%, menambah tekanan pada kondisi keuangan dan aset berisiko.

Bear Market Bitcoin Mendekati Satu Tahun

Pasar bear Bitcoin kini mendekati penanda satu tahun. Pertanyaan yang muncul: apakah siklus kenaikan suku bunga yang baru akan memperpanjang penurunan ini?

Jawabannya belum pasti. Satu siklus pembanding tidak cukup untuk menarik kesimpulan tegas, terutama karena kondisi makro dan industri kripto saat ini berbeda dari 2022.

Yang jelas, investor kripto kembali harus menghadapi lingkungan suku bunga tinggi, imbal hasil obligasi yang menarik, dan ketidakpastian geopolitik yang menekan selera risiko.

Terkini