FINANSIALNEWS.COM — Federal Reserve Amerika Serikat menaikkan suku bunga sebesar 0,25 poin persentase, kenaikan pertama dalam tiga tahun, dalam keputusan bulat yang dipimpin Ketua Fed Kevin Warsh. Langkah ini menabrak permintaan Presiden Donald Trump yang menginginkan suku bunga rendah, karena inflasi tahunan Agustus mencapai 3,4 persen—jauh di atas target 2 persen. Sebagian besar pejabat Fed juga memberi sinyal setidaknya satu kenaikan lagi tahun ini dan berlanjut hingga 2027.
Keputusan yang diumumkan Rabu itu diambil secara bulat oleh komite kebijakan Federal Reserve. Warsh, yang menjabat Ketua Fed sejak Mei, menyebut inflasi yang tinggi sudah berlangsung terlalu lama dan menegaskan komite akan menjaga stabilitas harga.
Pasar keuangan AS menanggapi keputusan ini dengan tenang. Imbal hasil obligasi yang sudah tinggi nyaris tidak bergerak, sementara bursa saham hanya turun tipis sesuai perkiraan.
Mengapa The Fed Akhirnya Menaikkan Suku Bunga
Data inflasi Agustus yang dirilis lebih tinggi dari perkiraan menjadi pemicu utama. Angka 3,4 persen secara tahunan memupus harapan bahwa perlambatan inflasi pada awal musim panas menandakan The Fed semakin dekat ke target 2 persen.
Gubernur Fed Christopher Waller, yang sebelumnya memilih menahan suku bunga pada rapat Juli, sudah memberi sinyal ini dalam pidatonya bulan ini. Menurut dia, jika data Agustus menunjukkan perbaikan hanya sementara, maka kenaikan suku bunga menjadi langkah yang tepat.
Waller menekankan inflasi sebagai faktor kunci dalam rapat bulan ini. Sebab, sisi lain ekonomi AS—lapangan kerja, tingkat kesempatan kerja, dan pertumbuhan secara keseluruhan—masih solid dan tidak mendesak penurunan suku bunga.
Perang Iran dan Perang Dagang Trump Jadi Pendorong Inflasi
Warsh menyoroti geopolitik sebagai salah satu faktor yang berubah sejak rapat terakhir The Fed. "Tidak ada tempat bersembunyi dari titik-titik panas di dunia," ujarnya dalam konferensi pers.
Harga energi melonjak akibat perang yang terus meluas di Iran. Harga minyak mentah menembus jauh di atas 100 dolar AS per barel setelah pemberontak Houthi yang didukung Iran mengganggu jalur pelayaran Bab el-Mandeb. Arab Saudi juga membatasi pengiriman minyak ke Eropa untuk beberapa bulan ke depan setelah gangguan pada pipa utama Timur-Barat.
Kondisi itu memicu kenaikan tajam harga bensin dan solar bagi konsumen AS. Tekanan harga juga datang dari tarif dagang yang diterapkan pemerintahan Trump serta besarnya investasi di sektor kecerdasan buatan. Indeks Harga Produsen AS naik pada Agustus seiring mahalnya biaya input perusahaan.
Tekanan Trump dan Dilema Komunikasi Warsh
Trump berulang kali menuntut suku bunga rendah untuk memacu ekonomi. Kenaikan suku bunga ini berpotensi memicu kemarahan presiden terhadap bank sentral yang seharusnya independen.
Namun Warsh menghadapi dilema lain: ia kesulitan meyakinkan investor dan pasar global bahwa ia memahami peran tradisional The Fed sebagai termostat yang andal bagi ekonomi dunia. Gaya komunikasinya yang minim panduan dinilai menyulitkan pasar membaca arah kebijakan.
Dalam konferensi pers, Warsh kembali menolak memberi banyak petunjuk soal keputusan mendatang. Ia hanya mengulang komitmen komite untuk menjaga stabilitas harga—sinyal bahwa suku bunga kredit rumah, kredit mobil, dan pinjaman usaha akan tetap tinggi setidaknya hingga tahun depan.
"Kenyataan sederhananya adalah inflasi terlalu tinggi dan sudah berlangsung terlalu lama," kata Warsh.
Beban Utang AS dan Kekhawatiran Global
Kenaikan suku bunga ini terjadi di tengah beban utang dan defisit AS yang membengkak. Penerbitan surat utang baru yang tidak terkendali mendorong imbal hasil obligasi jangka panjang AS ke level tertinggi dalam 20 tahun.
Kondisi itu menjadi penyimpangan dari pengalaman AS belakangan ini. Negara-negara yang selama ini ramah pun mulai ragu menopang dolar AS sebagai pilar sistem keuangan dunia.
Beberapa ekonom—dan Warsh sendiri pada suatu periode musim panas ini—berargumen pasar sebenarnya sudah menaikkan biaya pinjaman dengan mendorong imbal hasil utang jangka panjang. Argumen itu menyatakan tindakan The Fed sebenarnya tidak lagi diperlukan. Namun lonjakan harga Agustus membuat mayoritas pengamat pasar yakin The Fed akan menaikkan suku bunga.
Pasar awalnya sudah mengantisipasi keputusan ini setelah pidato Warsh bulan lalu di sebuah konferensi besar. Kenaikan kurang dari 0,25 poin diprediksi akan memicu reaksi brutal investor.