Ilmuwan Swedia Klaim Isometrik 3 Menit Bisa Bangun Otot, Ini Faktanya

Ilmuwan Swedia Klaim Isometrik 3 Menit Bisa Bangun Otot, Ini Faktanya
Ilmuwan Swedia Klaim Isometrik 3 Menit Bisa Bangun Otot, Ini Faktanya

FINANSIALNEWS.COM — Klaim bahwa latihan isometrik selama tiga menit mampu membangun otot empat kali lebih efektif dibanding latihan beban tradisional beredar luas di media sosial. Klaim itu merujuk pada pernyataan neurosaintis Swedia, Anders Hansen, dan memicu perdebatan soal apakah durasi sesingkat itu benar-benar cukup. Penelusuran terhadap dasar ilmiahnya menunjukkan isometrik memang punya tempat dalam latihan kekuatan, tetapi bukan jalan pintas ajaib.

Isometrik bukan metode baru. Plank, wall sit, atau menahan posisi squat sudah lama dikenal sebagai latihan yang menahan tubuh pada posisi tertentu sambil menjaga otot tetap tegang tanpa menggerakkan sendi.

Berbeda dari latihan biasa yang memendekkan dan memanjangkan otot lewat repetisi, isometrik membangun gaya otot tanpa pergerakan. Serat otot tetap aktif, tetapi karena bekerja melawan gaya lawan yang seimbang, posisi tubuh relatif tidak berubah.

Kuncinya ada pada tingkat ketegangan. Anda tidak diminta sekadar berdiam diri dalam posisi plank selama satu menit. Tujuannya adalah menciptakan ketegangan otot semaksimal mungkin sepanjang tahanan berlangsung.

Bagaimana Klaim Tiga Menit Itu Muncul

Klaim tersebut beredar lewat unggahan di Instagram yang mengutip neurosaintis Swedia, Anders Hansen. Menurut klaim itu, kontraksi otot isometrik yang dilakukan di bawah ketegangan maksimal selama tiga menit dapat memicu sintesis protein empat kali lebih efektif daripada latihan kekuatan konvensional.

Angka empat kali lipat itu terdengar menggiurkan. Namun klaim semacam ini perlu dilihat dari konteks penelitian yang mendasarinya, bukan diterima sebagai kesimpulan final.

Istilah teknis yang dipakai adalah "maximal voluntary contraction", yakni mengontraksikan otot sekuat mungkin. Penekanannya ada pada usaha maksimal, bukan sekadar durasi.

Tiga Gerakan, Satu Menit Masing-Masing

Dalam uji coba yang dilakukan, tiga gerakan sederhana dijalankan masing-masing selama 60 detik: wall sit, plank, dan doorway press. Totalnya tepat tiga menit.

Pada wall sit, punggung ditempelkan ke dinding lalu tubuh diturunkan hingga lutut membentuk sudut sekitar 90 derajat. Alih-alih sekadar menunggu waktu habis, kaki didorong kuat ke lantai dan otot glutes dikencangkan untuk menciptakan ketegangan maksimal.

Gerakan ini terutama membebani otot quadriceps, adductor, dan glutes. Efeknya terasa cepat, bahkan sebelum satu menit berlalu.

Plank dijalankan dengan cara yang sama. Otot perut dikencangkan, glutes diperas, dan lengan bawah ditekan aktif ke lantai. Bagian inti tubuh dan bahu langsung bekerja lebih keras dibanding plank biasa.

Doorway press dilakukan dengan berdiri di ambang pintu, menempelkan kedua tangan ke sisi kiri dan kanan, lalu mendorong keluar sekuat tenaga. Ketegangan menjalar ke dada, bahu, dan lengan.

Yang Terjadi pada 20 Detik Pertama

Dua puluh detik pertama terasa ringan. Memasuki detik ke-30, otot quadriceps mulai terasa panas. Pada detik ke-45, kaki mulai bergetar dan pandangan terus tertuju ke penghitung waktu.

Perubahan paling mencolok muncul ketika fokus bergeser dari sekadar menahan posisi menjadi sengaja menciptakan ketegangan otot sebesar mungkin. Posisi yang sama terasa jauh lebih berat.

Hal serupa terjadi pada plank. Bagi yang terbiasa plank, mengencangkan glutes, menegangkan inti tubuh, dan menekan lengan bawah ke lantai menghasilkan latihan yang jauh lebih intens.

Pada doorway press, dorongan melawan benda yang tidak bergerak awalnya terasa janggal. Semakin kuat dorongan, semakin keras pula dada, bahu, punggung, dan lengan bekerja.

Pelajaran terbesarnya sederhana: pada isometrik, hasil sebanding dengan usaha yang dikeluarkan. Posisi yang sama bisa ditahan 60 detik tanpa banyak efek, atau diubah menjadi latihan berat lewat ketegangan yang disengaja.

Apakah Benar Bisa Membangun Otot?

Latihan isometrik sering dikaitkan dengan rehabilitasi, tetapi juga berguna sebagai alat latihan kekuatan. Riset menunjukkan kontraksi isometrik dapat meningkatkan kekuatan dan ukuran otot.

Kontraksi isometrik tetap menciptakan ketegangan mekanis di dalam otot, yang menjadi rangsangan penting untuk pertumbuhan otot meski sendi relatif tidak bergerak. Jadi gagasan membangun otot tanpa repetisi tradisional tidak sepenuhnya keliru.

Dalam latihan pull-up, misalnya, menahan tubuh di posisi atas selama mungkin memaksa otot punggung, bahu, dan lengan bekerja keras. Hal yang sama berlaku pada push-up yang ditahan beberapa inci di atas lantai selama 20 hingga 30 detik.

Namun tiga menit menahan posisi statis bukan jalan pintas ajaib. Salah satu keterbatasan isometrik adalah keuntungan kekuatannya cenderung spesifik pada sudut sendi yang dilatih.

Jika tujuan Anda membangun otot, otot tetap perlu diberi beban yang meningkat secara bertahap dari waktu ke waktu. Isometrik lebih tepat diposisikan sebagai pelengkap, bukan pengganti latihan beban rutin.

Metode ini berguna untuk melatih waktu di bawah ketegangan, kesadaran tubuh, dan stabilitas. Isometrik juga praktis saat waktu terbatas atau ketika menjalani pemulihan cedera.

Alih-alih memilih satu metode sebagai yang terbaik, lebih masuk akal menempatkan isometrik sebagai salah satu alat dalam kotak perkakas latihan kekuatan.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index